Emas Mengalami Penurunan Akibat Penguatan Dolar dan Yield Obligasi AS

Harga emas dunia mengalami pelemahan pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, setelah sempat menguat di awal sesi. Pelemahan ini terjadi meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Oktober sempat merosot. Namun, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menjadi faktor penghambat laju emas.

Harga emas spot tercatat ditutup turun tipis 0,01% menjadi US$ 4.139,89 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember justru ditutup menguat 0,26% ke level US$ 4.167,6 per ons troi.

Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menyatakan bahwa harga emas masih berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek sebelum kembali menarik minat pembeli. “Kita bisa melihat penurunan harga emas dalam jangka pendek sebelum pembeli masuk secara berarti. Ini berkaitan dengan dolar yang terus menguat dan yield yang masih tinggi,” kata Razaqzada, mengutip Reuters.

Penguatan indeks dolar AS pada perdagangan Senin membuat emas, yang dihargai dalam dolar, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Bersamaan dengan itu, yield obligasi AS tenor 10 tahun berada di dekat level tertinggi dalam dua dekade. Tingginya yield membuat aset berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.

Tekanan terhadap emas terjadi di tengah perubahan tajam ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Data pertumbuhan lapangan kerja AS pada September yang melambat lebih dari perkiraan, serta revisi data nonfarm payrolls dua bulan sebelumnya yang juga lebih rendah, menyebabkan pelaku pasar memangkas taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan ini kini hanya sekitar 22%, sebuah penurunan drastis dari sekitar 70% pada pekan sebelumnya. Namun, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 84%.

“Dalam beberapa hari terakhir, data ekonomi AS yang kami lihat sebagian besar mengecewakan ekspektasi. Hal itu menyebabkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga berkurang,” ujar Razaqzada. Kenaikan suku bunga biasanya memberikan sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil. Sebaliknya, emas tetap memiliki fungsi sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Investor kini menantikan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang akan dirilis pekan ini. Risalah tersebut dinilai penting untuk melihat arah kebijakan moneter The Fed setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, prospek emas dalam jangka menengah dinilai masih positif. Konsultan logam mulia Metals Focus memperkirakan emas akan mencetak rekor tertinggi baru pada 2027 karena investor mencari alternatif terhadap aset tradisional berbasis dolar AS. Metals Focus juga memperkirakan harga emas rata-rata mencapai US$ 5.330 per ons troi pada 2027.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak justru melonjak 1,13% menjadi US$ 61,07 per ons. Platinum menguat 1,4% menjadi US$ 1.725,37 per ons, sedangkan paladium naik 0,74% menjadi US$ 1.179,37 per ons.

Tinggalkan komentar