Nilai tukar Rupiah (IDR) kembali menunjukkan penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Data dari Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange mencatat rupiah dibuka menguat 11 poin atau 0,06% ke posisi Rp 17.955 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat 0,01% ke level 102,11.
Penguatan ini terjadi setelah penutupan perdagangan hari sebelumnya, Kamis (1/10/2026), di mana Rupiah tercatat melemah 72 poin (0,40%) dan berakhir di level Rp 17.966 per dolar AS.
Penguatan Rupiah terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang dipengaruhi oleh aksi jual obligasi. Dolar AS sendiri sempat mencapai level tertinggi dalam 17 bulan terhadap Euro pada hari Kamis. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan Eropa ke rekor baru, serta lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi, turut membebani mata uang utama dunia.
Euro tercatat mengalami pelemahan 0,77% terhadap dolar AS, diperdagangkan di level $1,12433. Mata uang Eropa ini telah mengalami penurunan bulanan terbesar sejak Juli 2025, dengan pelemahan hampir 2,5% sepanjang September 2026.
Sementara itu, dolar AS mencatat kenaikan selama enam kuartal berturut-turut terhadap sekeranjang mata uang hingga akhir September. Periode penguatan terpanjang ini terjadi sejak tahun 2022, seiring dengan kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dibandingkan negara lain. Indeks dolar AS tercatat naik 0,51% pada hari Kamis, sempat menyentuh level tertinggi sejak April 2025.
Mata uang lainnya juga menunjukkan pelemahan. Poundsterling Inggris melemah 0,49% terhadap dolar AS ke level $1,32, setelah sempat terkoreksi 2,1% pada bulan sebelumnya, meskipun tetap stabil terhadap Euro. Yen Jepang melemah 0,41% terhadap dolar AS ke posisi 158,07 per dolar. Dolar Australia juga turun ke level terendah dalam tiga bulan di angka $0,69040 per dolar AS.