Bukit Asam Ajukan Izin Penggunaan Afiliasi untuk Jaga Produksi Batu Bara

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengambil langkah proaktif untuk memastikan kelangsungan produksi batu bara seiring dengan terbitnya Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 365.K/MB.01/MEM.B/2026. Kepmen ini mengatur pedoman teknis pelaksanaan persetujuan penggunaan anak perusahaan dan/atau afiliasi dalam bidang usaha jasa pertambangan mineral dan batubara.

Sebagai anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID, PTBA telah mengajukan permohonan kepada Menteri ESDM untuk mendapatkan persetujuan penggunaan PT Satria Bahana Sarana (PT SBS) sebagai perusahaan afiliasi jasa kontraktor penambangan.

Kepmen ESDM yang diterbitkan pada 18 September 2026 tersebut memperbolehkan penggunaan anak perusahaan dan/atau afiliasi dengan syarat memenuhi kriteria tertentu dan memperoleh persetujuan sesuai mekanisme yang ditetapkan. Kriteria tersebut mencakup pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan fasilitas pengelolaan atau pemurnian mineral, pengembangan dan pemanfaatan batu bara, serta pemenuhan kebutuhan mineral dan batu bara dalam negeri.

“PTBA menghormati dan mendukung kebijakan pemerintah dalam memperkuat tata kelola usaha jasa pertambangan. Kami telah mengajukan permohonan persetujuan penggunaan PT SBS kepada Menteri ESDM dan senantiasa terus berkoordinasi terhadap setiap proses evaluasi yang dilakukan berdasarkan kebijakan aturan yang berlaku,” ujar Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan dalam keterangan resminya, Senin (5/10/2026).

Bambang menambahkan, pengajuan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan kegiatan operasional berjalan sesuai ketentuan dan menjaga pasokan produksi demi ketahanan energi nasional. Ia menegaskan bahwa perusahaan tetap berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target produksi sekitar 49,5 juta ton pada tahun 2026.

Pemenuhan kebutuhan domestik menjadi prioritas PTBA dalam menjaga ketahanan energi nasional. Hingga semester I-2026, penjualan domestik perusahaan mencapai 10,77 juta ton, atau sekitar 51% dari total penjualan. PTBA juga sedang dalam proses pengajuan usulan rencana produksi 2027 kepada Kementerian ESDM, dengan memprioritaskan suplai domestik sambil mencermati peluang pasar ekspor.

“Dukungan rantai pasok terintegrasi dari tambang, angkutan kereta api, hingga pelabuhan menjadi modal penting untuk menjaga keandalan pasokan,” jelas Bambang.

Langkah Penting untuk Keberlanjutan Operasional

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai langkah PTBA untuk segera meminta persetujuan Kementerian ESDM terkait penggunaan PT SBS sebagai kontraktor tambang terafiliasi adalah keputusan strategis. Hal ini penting untuk memastikan kesinambungan kegiatan operasional dan menjaga tingkat produksi.

“Di tengah pengetatan aturan terkait penggunaan perusahaan jasa pertambangan terafiliasi, kepastian regulasi menjadi krusial agar tidak terjadi gangguan pada kegiatan penambangan, pengangkutan maupun pemenuhan target produksi. Percepatan proses persetujuan ini dapat dipandang sebagai upaya mitigasi risiko operasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan batu bara PTBA hingga akhir tahun,” kata Nafan.

Nafan melihat PTBA masih berpeluang mempertahankan momentum positif pada semester II-2026, meskipun tantangannya lebih besar. Kinerja semester kedua akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan menjaga volume produksi dan penjualan, efisiensi biaya, serta perkembangan harga batu bara.

Jika persoalan terkait kontraktor tambang dapat diselesaikan tanpa mengganggu produksi, fundamental operasional PTBA relatif terjaga. Namun, perusahaan tetap perlu mengantisipasi volatilitas harga batu bara dan potensi kenaikan biaya produksi maupun jasa pertambangan yang dapat menekan margin.

“Secara keseluruhan, prospek PTBA sepanjang 2026 masih cukup konstruktif dengan ditopang oleh posisi perseroan sebagai salah satu produsen batu bara utama nasional, basis cadangan yang kuat, serta upaya peningkatan efisiensi dan optimalisasi produksi. Selain itu, pengembangan bisnis hilirisasi dan diversifikasi energi dalam jangka menengah juga dapat menjadi katalis tambahan,” ungkap Nafan.

Prospek Saham PTBA

Untuk pergerakan saham PTBA ke depan, Nafan memprediksi potensi volatilitas tetap ada, karena sangat sensitif terhadap ekspektasi harga batu bara dan prospek laba. Jika produksi dan penjualan mampu dipertahankan, serta harga batu bara tidak mengalami koreksi tajam, sentimen terhadap saham PTBA berpeluang tetap terjaga.

“Daya tarik dividend yield juga dapat menjadi penopang minat investor, khususnya bagi investor yang berorientasi pada pendapatan dividen,” tutur Nafan.

Namun, Nafan mengingatkan bahwa kenaikan harga saham perlu dikonfirmasi oleh perbaikan fundamental dan ekspektasi laba. Investor disarankan untuk mencermati level valuasi serta perkembangan harga komoditas sebelum mengambil keputusan investasi.

“Secara fundamental, PTBA masih menarik untuk diperhatikan di sektor batu bara. Katalis kenaikan saham akan lebih kuat apabila terdapat kombinasi antara stabilnya volume produksi, efisiensi biaya, harga batu bara yang relatif resilient, serta kepastian regulasi terkait kontraktor tambang,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar