Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menjadi emiten yang menarik untuk dicermati pada pekan terakhir September. Namun, investor diingatkan untuk tetap berhati-hati dan selektif.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menekankan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum sepenuhnya stabil. Oleh karena itu, strategi investasi saat ini sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan secara agresif sekaligus. Investor dapat memanfaatkan koreksi pasar untuk mengakumulasi saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek bisnis yang jelas, sembari tetap menjaga likuiditas guna mengantisipasi potensi pelemahan lebih lanjut.
“Strategi saat ini bukan mengejar momentum, melainkan buy on weakness secara terukur dan melakukan stock picking dengan disiplin risiko,” ungkap Hendra di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Hendra menyebutkan PTBA dapat dicermati dengan strategi speculative buy dan target harga Rp 3.220. Pembelian disarankan secara bertahap ketika harga saham melemah, bukan saat mengalami kenaikan tajam.
ADRO juga masuk dalam radar pantauan dengan strategi speculative buy dan target harga Rp 2.860. Saham ini dinilai layak dicermati apabila mampu mempertahankan momentum serta didukung oleh sentimen positif harga komoditas.
Sementara itu, SGER dinilai lebih sesuai untuk strategi trading buy dengan target harga Rp 800. Karakter pergerakan saham ini dinilai lebih cocok dimanfaatkan untuk momentum perdagangan jangka pendek.
“Tiga saham tersebut bukan rekomendasi untuk masuk secara agresif sekaligus, tetapi lebih kepada memanfaatkan momentum secara selektif dengan disiplin terhadap level risiko,” tegas Hendra.
Lebih lanjut, Hendra memaparkan bahwa IHSG telah terkoreksi 3,09% sepanjang pekan lalu dan masih berada dalam tekanan jual. Area 6.220–6.230 menjadi batas bawah (support) penting yang perlu dipertahankan.
Jika level support tersebut bertahan dan IHSG mampu menembus 6.320, porsi investasi dapat ditingkatkan secara bertahap. Peluang rebound berikutnya terbuka menuju kisaran 6.370–6.410.
Sebaliknya, apabila level 6.220 ditembus dengan tekanan jual yang besar, risiko koreksi menuju 6.150–6.180 akan meningkat. Dalam skenario ini, investor disarankan untuk mengurangi agresivitas, kembali ke pola defensif, dan menjaga likuiditas.
Hendra menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bawah. Oleh karena itu, penguatan jangka pendek masih lebih tepat dipandang sebagai technical rebound hingga tekanan jual benar-benar mereda.