Rupiah Menguat ke Rp 17.899 per Dolar AS di Tengah Data Ekonomi AS yang Melandai

JAKARTA – Mata uang rupiah melanjutkan tren penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026. Nilai tukar rupiah sore ini tercatat menguat 18 poin ke level Rp 17.899 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di Rp 17.917 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa penguatan rupiah terjadi meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi. Konflik antara pasukan pemerintah Yaman yang diakui internasional dengan kelompok militan Houthi dilaporkan terus berlanjut.

Selain itu, melemahnya laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada bulan Agustus, yang berada di bawah ekspektasi dan angka sebelumnya direvisi turun, turut berkontribusi pada penguatan rupiah. Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini dinilai mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan akhir Oktober mendatang.

Dari sisi domestik, optimisme terhadap kinerja ekonomi Indonesia menjadi penopang penguatan rupiah. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 mencapai 5,2%, sebuah revisi naik sebesar 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya. Proyeksi ini didukung oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya alokasi subsidi energi.

Lonjakan pertumbuhan ekonomi tersebut mencerminkan penguatan konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik menjelang akhir tahun. Faktor-faktor seperti momen Ramadan dan Idulfitri yang jatuh lebih awal, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis turut mendorong pengeluaran pemerintah lebih awal dalam siklus fiskal.

Tinggalkan komentar