Nilai tukar rupiah (IDR) menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah dibuka menguat 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp 17.914 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan Senin (5/10/2026), rupiah tercatat melemah 35 poin (0,20%) ke level Rp 17.917 per dolar AS.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah gejolak mata uang global. Mata uang euro merosot ke level terendah dalam 17 bulan terhadap dolar AS pada hari Senin. Hal ini dipicu kekhawatiran mengenai kemampuan Prancis dalam mengendalikan defisit anggarannya serta aksi jual tajam di pasar obligasi pekan lalu yang menimbulkan kekhawatiran krisis utang negara di zona euro.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,28% menjadi 102,19 setelah sempat menyentuh level 102,53, yang merupakan level tertinggi sejak 10 April 2025. Penguatan indeks dolar terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan paket tarif yang disebutnya sebagai “Hari Pembebasan” (Liberation Day), yang memicu aksi jual luas pada aset-aset AS.
Sementara itu, euro melemah 0,36% ke level $1,1211 per dolar AS. Sebelumnya, euro sempat anjlok hingga 0,8% ke $1,116 per dolar AS, posisi terlemahnya sejak Mei 2025.
Dari sisi kebijakan moneter, data CME FedWatch menunjukkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setidaknya 25 basis poin pada pertemuan bulan Oktober berada di angka 23,8%, turun dari 70,9% pada pekan sebelumnya. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan Desember tetap tinggi, dengan pasar memperhitungkan peluang kenaikan sebesar 88,1%.
Mata uang lainnya, poundsterling Inggris melemah 0,21% menjadi $1,3213 per dolar AS, namun tercatat menguat sekitar 0,2% terhadap euro. Yen Jepang juga melemah 0,12% ke level 158,04 per dolar AS.