Rupiah Menguat ke Rp 17.800 di Tengah Ketidakpastian Global

Nilai tukar rupiah (IDR) melanjutkan tren penguatannya pada penutupan perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Mata uang Garuda berhasil kembali ke kisaran Rp 17.800 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp 17.900.

Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah tercatat menguat 84 poin atau 0,47% ke level Rp 17.882 per dolar AS. Posisi ini lebih baik dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.965 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa rupiah mampu mempertahankan penguatannya meskipun dibayangi oleh sentimen eksternal. Sentimen tersebut mencakup dampak konflik di Timur Tengah serta dinamika kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Ibrahim merujuk pada laporan Wall Street Journal yang menyebutkan Amerika Serikat akan mengirimkan tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah. “Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (2/10/2026).

Dari sisi kebijakan moneter, para pejabat The Fed, termasuk Wakil Ketua Philip Jefferson, mengindikasikan bahwa perekonomian AS mendekati kondisi lapangan kerja maksimal. Mereka menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penyesuaian suku bunga. Namun, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, masih bersikap hawkish dan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Penguatan rupiah juga terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap rilis laporan nonfarm payrolls bulan September dari Amerika Serikat. “Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS telah menambah hampir 90.000 lapangan kerja, turun dari 162.000 pada bulan Agustus, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di angka 4,1%,” papar Ibrahim.

Tinggalkan komentar