Pasokan Minyak Melonggar, Harga Dunia Anjlok Akibat Ekspor Timur Tengah dan Rencana G7

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Tekanan jual datang dari peningkatan ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, serta rencana negara-negara G7 untuk melepas cadangan minyak darurat ke pasar global.

Meskipun demikian, penurunan harga tersebut sedikit tertahan oleh kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan. Isu ini muncul akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dengan Iran, serta ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak Desember tercatat melemah US$ 1,93 atau 1,89% menjadi US$ 100,32 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami pelemahan sebesar US$ 1,68 atau 1,84%, ditutup pada angka US$ 89,43 per barel.

Data pengiriman terbaru menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah dari Timur Tengah telah melampaui level sebelum perang terjadi, yakni pada empat dari tujuh hari di pekan terakhir September. Situasi ini terjadi meskipun kapal tanker masih dihadapkan pada risiko serangan saat melintasi Selat Hormuz.

“Meskipun kapal tanker masih menghadapi risiko, harapannya pada akhirnya lebih banyak minyak dapat masuk ke pasar,” ujar Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, mengomentari potensi peningkatan pasokan.

Sumber tambahan pasokan juga datang dari keputusan negara-negara G7 yang berencana melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat mereka. Komitmen ini juga mencakup janji untuk tidak menerapkan pembatasan ekspor energi.

Namun, pasar masih meragukan seberapa besar tambahan pasokan tersebut benar-benar berasal dari cadangan baru. Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menyatakan bahwa pasar menunjukkan skeptisisme karena belum ada kejelasan mengenai jumlah minyak yang akan dilepas dari sisa program pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel yang dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional (IEA) sejak Maret lalu.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, sebelumnya telah menginformasikan bahwa negara-negara anggota IEA telah berhasil melepas sekitar dua pertiga dari total 400 juta barel yang telah disepakati.

Risiko Geopolitik Masih Membayangi

Di tengah potensi tambahan pasokan minyak, risiko geopolitik masih menjadi faktor penahan yang mencegah penurunan harga minyak lebih dalam.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menekankan bahwa belum adanya gencatan senjata di Timur Tengah, ditambah dengan memanasnya kembali konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi, akan terus mempertahankan risiko terhadap infrastruktur energi dan keselamatan kapal tanker. “Risiko geopolitik tetap tinggi,” tegas Varga.

Kekhawatiran mengenai pasokan minyak juga diperkuat oleh kondisi cadangan minyak mentah di Amerika Serikat. Persediaan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS dilaporkan turun menjadi 283 juta barel pada pekan lalu, mencapai level terendah sejak Oktober 1982.

Sementara itu, CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperkirakan bahwa pasokan minyak mentah dan bahan bakar olahan global masih akan tetap ketat. Ia menambahkan bahwa pengisian kembali stok minyak global setelah penarikan cadangan darurat berpotensi memakan waktu hingga dua tahun.

Di sisi lain, OPEC+ dilaporkan menunda kajian yang seharusnya menentukan kuota produksi minyak untuk tahun 2027. Penundaan ini terjadi setelah perang di Iran mengganggu proyek ekspansi kapasitas produksi di Timur Tengah, sehingga membuat proyeksi kapasitas produksi di masa depan menjadi semakin tidak pasti.

Perusahaan minyak Inggris, BP, juga dilaporkan telah melakukan penyesuaian operasional pada kilangnya untuk meningkatkan produksi diesel. CEO BP, Meg O’Neill, menyatakan bahwa langkah ini diambil seiring dengan tingginya perhatian pasar terhadap pasokan bahan bakar olahan.

Secara mengejutkan, Saudi Aramco juga mengumumkan pemangkasan harga resmi minyak mentah untuk pasar Asia pada November mendatang. Penyesuaian harga ini akan membawa harga ke level terendah dalam enam tahun terakhir.

Tinggalkan komentar