JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai kuartal IV-2026 di tengah tekanan signifikan. Arus keluar dana asing tercatat mencapai sekitar Rp 108 triliun secara year to date (ytd), sementara nilai tukar rupiah terus mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Analis sekaligus Founder Stocknow, Hendra Wardana, menilai bahwa tekanan terhadap IHSG pada kuartal IV-2026 berbeda dari kondisi pasar pada umumnya. Secara historis, paruh kedua tahun seringkali memberikan kinerja yang lebih positif bagi pasar saham, namun pola ini belum tentu terulang di tahun ini.
“Secara historis memang paruh kedua tahun sering menjadi periode yang lebih baik bagi pasar saham, tetapi kondisi 2026 berbeda karena tekanan yang datang bukan hanya dari faktor domestik, melainkan juga kombinasi tekanan global dan persoalan kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia,” ujar Hendra, Minggu (4/10/2026).
Hendra menambahkan, selain arus keluar dana asing, pasar juga menghadapi tekanan dari tingginya imbal hasil (yield) obligasi AS, penguatan dolar AS, pelemahan rupiah, risiko geopolitik, serta kenaikan harga minyak dunia.
Nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 17.888 per dolar AS menjadi perhatian khusus karena semakin mendekati angka Rp 18.000. Kondisi ini membuat aset berdenominasi dolar AS tetap menarik bagi investor global, yang berpotensi mempertahankan tekanan terhadap aliran modal masuk ke pasar Indonesia.
“Secara kuartalan IHSG masih berpeluang mengalami technical rebound, tetapi untuk membentuk tren naik yang kuat dibutuhkan perubahan fundamental pada aliran dana asing dan sentimen terhadap Indonesia,” jelas Hendra.
Asing Menjadi Penentu Arah IHSG
Menurut Hendra, sejumlah katalis positif sebenarnya masih tersedia pada kuartal IV. Perbaikan konsumsi domestik, realisasi belanja pemerintah, kinerja emiten pada kuartal III, serta potensi kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan dapat menjadi penopang IHSG. Peluang pelonggaran kebijakan moneter juga bisa terwujud apabila tekanan terhadap rupiah mereda.
Selain itu, valuasi sejumlah saham yang telah mengalami koreksi panjang membuka ruang untuk aksi bargain hunting atau perburuan saham murah. Namun, Hendra mengakui bahwa katalis negatif saat ini masih terasa lebih dominan.
“Tahun ini investor justru masuk ke periode tersebut dengan posisi yang sudah defensif. Ketika asing terus keluar dalam jumlah besar, kenaikan IHSG menjadi lebih sulit karena setiap rebound berpotensi dimanfaatkan untuk melakukan profit taking atau mengurangi posisi,” kata Hendra.
Hendra menilai, kondisi pasar pada 2026 ini bukan semata-mata persoalan efek musiman (seasonal effect). Faktor sentimen pasar, pergerakan arus dana, dan tingkat kepercayaan investor menjadi jauh lebih dominan dalam menentukan arah pergerakan IHSG.
Lebih lanjut, Hendra memperkirakan net sell asing masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Namun, tekanan ini dapat mulai mereda apabila rupiah menunjukkan stabilitas dan sentimen global membaik. “Fokus utama saat ini adalah membangun kembali support dan kepercayaan pasar terlebih dahulu,” pungkasnya.