Rupiah Tertekan, Fluktuatif Menjelang Akhir Pekan

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026. Pelemahan diperkirakan terjadi seiring dengan berbagai sentimen eksternal yang terus menekan mata uang Garuda.

Pada penutupan perdagangan Senin sore (5/10/2026), rupiah tercatat melemah 35 poin atau 0,20% ke posisi Rp 17.917 per dolar AS. Posisi ini merosot dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.882 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.910 hingga Rp 17.960 per dolar AS pada perdagangan Selasa. “Untuk perdagangan minggu ini, kurs rupiah diprediksi bergerak di rentang Rp 17.750 – Rp 18.050 per dolar AS,” ungkapnya.

Ibrahim memaparkan, prospek rupiah masih dihantam berbagai sentimen eksternal. Salah satunya adalah dampak konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pada distribusi energi global. Kenaikan harga minyak dunia secara otomatis memberikan dampak pada keseimbangan fiskal Indonesia.

Ibrahim mencatat, sejak konflik Timur Tengah bergejolak, Indonesia telah kehilangan 25% sumber pasokan impor bahan bakar. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk terus mencari sumber pasokan alternatif demi menjaga pasokan energi domestik.

“Oleh karena itu, pemerintah bersama Pertamina mencari sumber pasokan alternatif secara langsung ke negara-negara yang masih memiliki kelebihan stok. Strategi tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh BBM dengan harga yang berpotensi lebih tinggi dibandingkan mekanisme pengadaan normal. Namun, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan stok BBM nasional tetap tersedia di tengah ketidakpastian pasokan global,” jelas Ibrahim.

Ia menambahkan, ada dua prioritas pemerintah dalam menghadapi kondisi tersebut. Pertama, menjaga harga BBM subsidi, khususnya solar dan bensin, agar tetap tidak mengalami kenaikan. Kedua, pemerintah tetap menjaga ketahanan stok BBM nasional pada level 18–20 hari.

Selain sentimen geopolitik, rupiah juga diprediksi kembali melemah menjelang rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Data tersebut meliputi ISM Services PMI, data ketenagakerjaan mingguan, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, serta data sentimen konsumen dari University of Michigan.

Tinggalkan komentar