Prediksi Rupiah: Fluktuatif di Tengah Sentimen Global dan Kebijakan BI

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Pada penutupan perdagangan Jumat sore (2/10/2026), rupiah tercatat menguat 84 poin atau 0,47% ke posisi Rp 17.882 per dolar AS, naik dari penutupan sebelumnya di Rp 17.965 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.880 – Rp 17.930 per dolar AS pada Senin depan. Untuk pergerakan sepekan ke depan, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah berada di kisaran Rp 17.750 – Rp 18.050 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pekan depan masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi dampak konflik Amerika Serikat-Iran serta ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Eskalasi konflik yang terjadi membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Situasi ini berpotensi meningkatkan risiko inflasi, yang mendukung argumen untuk kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, data inflasi yang lebih rendah baru-baru ini telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan Oktober hanya sekitar 26%, turun drastis dari 69% pada pekan sebelumnya.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) telah memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. Kebijakan ini bertujuan memberikan ruang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas dan mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan. Perluasan ini mencakup obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter.

Menurut Ibrahim, kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar atau pro-market dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA). Operasi moneter pro-market memungkinkan kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan.

Tinggalkan komentar