Emas Menguat Seiring Data Tenaga Kerja AS, Kenaikan Suku Bunga The Fed Diragukan

Harga emas dunia menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Kenaikan ini dipicu oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang dirilis lebih lemah dari perkiraan, sehingga meredam ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan Oktober.

Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat naik 0,44% menjadi US$ 4.159,12 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga menguat 0,56% menjadi US$ 4.185,82 per ons troi.

Data yang dipublikasikan pada Jumat lalu menunjukkan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja di AS pada bulan September. Revisi turun yang signifikan juga diterapkan pada data nonfarm payrolls untuk dua bulan sebelumnya. Informasi ini secara langsung mengubah pandangan pasar mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober kini hanya sebesar 22%, jauh menurun dari 64% yang tercatat sepekan sebelumnya. Melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan sentimen positif bagi emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil. Suku bunga yang lebih rendah umumnya mengurangi biaya peluang untuk memegang emas, sehingga meningkatkan daya tariknya sebagai logam mulia.

“Data pasar tenaga kerja yang lebih lemah telah membantu mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, yang memberikan sedikit dukungan bagi emas,” ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.

Meskipun peluang kenaikan suku bunga pada Oktober menyusut drastis, pasar belum sepenuhnya menghilangkan kemungkinan pengetatan kebijakan oleh The Fed. Pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 87%.

The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada September, menjadikannya kenaikan pertama dalam tiga tahun, dengan kisaran suku bunga kini berada di 3,75%-4,00%.

Geopolitik Menjadi Pemicu Lainnya

Selain kebijakan The Fed, perkembangan di kancah geopolitik juga menjadi sorotan pasar emas. Pemerintah Yaman yang mendapat dukungan dari Arab Saudi dan diakui secara internasional, pada Minggu lalu, menyatakan akan melancarkan operasi militer skala besar untuk merebut kembali seluruh wilayah yang saat ini dikuasai oleh kelompok Houthi yang didukung Iran.

Menurut Waterer, dinamika di Timur Tengah tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar emas, terutama melalui dampaknya terhadap harga minyak dan proyeksi inflasi. “Volatilitas kemungkinan tetap tinggi selama harga minyak, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi The Fed terus berubah,” katanya.

Harga minyak sempat melemah di awal perdagangan karena peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah serta pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara G7 yang menambah pasokan di pasar. Namun, pasar masih mengamati potensi kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur minyak di kawasan Teluk akibat konflik dengan Iran. Pergerakan harga minyak memiliki implikasi penting bagi emas karena dapat memengaruhi kembali prospek inflasi dan respons kebijakan The Fed.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 1,54% menjadi US$ 61,31 per ons. Platinum menguat 0,86% menjadi US$ 1.715,85 per ons, sementara palladium naik 0,42% menjadi US$ 1.175,6 per ons.

Tinggalkan komentar