Harga Emas Tertekan Data Ketenagakerjaan AS, Investor Cemas

Optimisme awal investor emas sirna setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang mengecewakan. Harga emas gagal mempertahankan kenaikan dan berisiko membukukan penurunan selama dua pekan berturut-turut, diperdagangkan di dekat level terendah terbarunya.

Harga emas spot terakhir tercatat di US$ 4.137 per ons, merosot lebih dari 3% sepanjang pekan. Tekanan jual menguat setelah emas gagal menembus level US$ 4.200 per ons. Penurunan ini terjadi setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengumumkan bahwa perekonomian hanya menciptakan 29.000 lapangan kerja pada September, jauh di bawah ekspektasi pasar.

Laporan tersebut juga mengungkapkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%, sementara rata-rata upah hanya mengalami kenaikan 0,1%. Simon-Peter Massabni, Head of Business Development XS.com, menyatakan pergerakan harga emas yang mengecewakan mencerminkan pasar yang masih terbelah antara pelemahan ekonomi dan tingginya imbal hasil obligasi serta inflasi AS.

“Dari perspektif kebijakan moneter, laporan ketenagakerjaan telah memberikan dukungan fundamental bagi emas. Namun, laporan tersebut belum memberikan konfirmasi teknikal bahwa tren kenaikan yang lebih luas kembali berlanjut,” ujar Massabni, dikutip Kitco News. Ia menambahkan, persoalan utama bagi emas ke depan adalah apakah pelemahan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk menekan imbal hasil obligasi atau justru inflasi tetap persisten.

Perlambatan momentum data ketenagakerjaan telah membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga akhir bulan ini. Namun, para ekonom menilai, meskipun pasar tenaga kerja AS melambat, Federal Reserve (The Fed) tetap memprioritaskan inflasi yang persisten.

Meskipun momentum pasar tenaga kerja melambat, Phillip Streible, Chief Market Strategist Blue Line Futures, menilai perekonomian AS masih cukup tangguh. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal pertama dilaporkan tumbuh 2,2%, melampaui ekspektasi, dengan revisi kuartal I naik menjadi 2,5%. “Kita tidak sedang berada dalam lingkungan stagflasi,” jelas Streible. “Kami terus melihat pertumbuhan yang semakin meluas di sektor teknologi dan, dalam kondisi seperti ini, saya tidak bisa bersikap bullish terhadap emas.”

David Morrison, Senior Market Analyst Trade Nation, belum dapat memastikan tekanan terburuk terhadap harga emas telah berakhir. “Jeda dalam pengetatan kebijakan moneter bulan ini tidak berarti kenaikan suku bunga berikutnya sudah tidak mungkin terjadi. Inflasi tampaknya masih akan menjadi pertimbangan utama bagi FOMC The Fed, sementara bagian lain dari mandatnya, yakni memastikan tingkat kesempatan kerja maksimum, kemungkinan masih berada di posisi kedua untuk sementara waktu,” tuturnya.

Morrison menilai potensi penurunan harga logam mulia tersebut terbatas, meskipun masih memiliki ruang untuk bergerak dalam jangka pendek. “Saya tidak yakin emas masih jauh dari proses membentuk titik terendah lagi, seperti yang terjadi pada musim panas. Jika emas tidak mampu memperoleh momentum yang cukup untuk reli di tengah penguatan dolar AS, harga mungkin perlu menguji kembali area batas bawah (support) penting di sekitar US$ 4.000,” ujarnya. Jika level tersebut ditembus, terdapat peluang besar bagi emas untuk berkonsolidasi dan membangun momentum untuk reli yang kuat.

Tinggalkan komentar