Data Ketenagakerjaan AS Mengecewakan, Emas Menguat Namun Investor Diimbau Hati-hati

TANGERANG – Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) untuk September menunjukkan pertumbuhan pekerjaan yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Kondisi ini menyebabkan dolar AS melemah dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai. Namun, investor disarankan untuk tidak terburu-buru membeli emas setelah rilis data tersebut.

Data nonfarm payrolls (NFP) yang dirilis pada Jumat (2/10/2026) mencatat penambahan pekerjaan di AS hanya sebanyak 29.000 pada September. Angka ini berada di bawah ekspektasi para ekonom yang memperkirakan pertumbuhan pekerjaan mencapai 89.000.

Berdasarkan laporan Federal Reserve Bank of St. Louis (St. Louis Fed) yang dirilis Senin (5/10/2026), tingkat pengangguran di AS mengalami kenaikan dari 4,1% pada Agustus menjadi 4,2% pada September. Tingkat pengangguran secara rinci meningkat dari 4,141% menjadi 4,175%.

Lemahnya data tenaga kerja ini turut menekan dolar AS dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Situasi ini menjadi sentimen positif bagi emas, yang bergerak ke kisaran US$4.150-US$4.160 per ons troi. Pergerakan emas menjadi salah satu yang paling diperhatikan pasar pasca-rilis NFP. Data ketenagakerjaan AS hampir selalu memicu volatilitas tinggi pada XAU/USD, sehingga dapat menciptakan peluang sekaligus risiko bagi investor.

Dikutip dari KVB pada Senin (5/10/2026), volatilitas harga emas biasanya meningkat sesaat setelah NFP dirilis. Dalam kondisi tersebut, harga dapat bergerak ekstrem dalam waktu singkat, sementara spread melebar dan meningkatkan risiko slippage. Oleh karena itu, investor perlu berhati-hati dan tidak terburu-buru mengambil posisi ketika harga baru bergerak tajam. Lonjakan awal juga belum tentu mencerminkan arah pasar selanjutnya.

Investor perlu mewaspadai spike dan fake move, yaitu ketika harga emas melonjak naik kemudian berbalik turun tajam, atau sebaliknya. Kondisi tersebut dapat membuat investor terjebak jika mengambil posisi terlalu cepat. Setelah pergerakan awal mereda, pasar biasanya membutuhkan waktu untuk membentuk arah yang lebih jelas.

Strategi wait and see dapat diterapkan dengan menunggu volatilitas menurun dan struktur harga mulai terbentuk. Ketika arah pasar mulai lebih jelas, investor dapat mempertimbangkan pergerakan harga yang mengikuti struktur tersebut, bukan mengejar lonjakan awal. Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko terjebak fake move.

KVB juga menyarankan penggunaan time frame H1 untuk membantu mengonfirmasi arah harga setelah rilis data ekonomi penting. Penutupan candle H1 dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kecenderungan tren setelah volatilitas awal mereda. Selain itu, investor dapat memperhatikan retracement setelah terjadi spike. Setelah mengalami pergerakan besar, harga emas kerap mengalami koreksi sebelum melanjutkan arah utamanya. Area koreksi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan posisi dengan risiko yang lebih terukur.

Dengan demikian, lemahnya data tenaga kerja AS memang memberikan sentimen positif bagi emas, tetapi investor tetap perlu mencermati volatilitas setelah rilis NFP. Menunggu arah harga lebih jelas menjadi salah satu cara untuk menghindari keputusan terburu-buru di tengah pergerakan pasar yang ekstrem.

Tinggalkan komentar