Rupiah Tembus Rp 17.917 Tertekan Konflik Timur Tengah dan Data Ekonomi AS

JAKARTA – Perlemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berlanjut hingga penutupan perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Rupiah ditutup melemah 35 poin atau 0,20% ke level Rp 17.917 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.882 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan ini dipicu oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi.

Ketegangan memanas setelah Pemerintah Yaman yang diakui internasional dan didukung Arab Saudi mengumumkan rencana operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok militan Houthi. Sebelumnya, kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais sebagai respons atas serangan Arab Saudi di Yaman.

“Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran mengenai produksi di negara pengekspor utama kawasan tersebut,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).

Ia menambahkan, sejak konflik Timur Tengah bergejolak, Indonesia telah kehilangan 25% sumber pasokan impor bahan bakar. Hal ini memaksa pemerintah mencari sumber minyak dari negara lain untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman.

Selain itu, pelemahan rupiah juga terjadi menjelang rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Data tersebut meliputi ISM Services PMI, data ketenagakerjaan mingguan, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, serta data sentimen konsumen dari University of Michigan.

Tinggalkan komentar