Kopilot Flydubai Diduga Lakukan Aksi Terorisme dengan Kapak di Kokpit

DUBAI – Otoritas penegak hukum Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi insiden menegangkan di dalam kokpit pesawat Flydubai nomor penerbangan FZ1073 rute Dubai menuju Israel merupakan bentuk aksi terorisme. Kopilot pesawat tersebut dilaporkan menyerang kapten pilot menggunakan kapak darurat demi mengambil alih kendali pesawat dan menjatuhkannya.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Jaksa Agung UEA Hamad Saif Al Shamsi, menurut laporan Reuters. Pengakuan resmi ini menjadi yang pertama dari tim penyidik UEA yang secara tegas mengategorikan peristiwa tersebut sebagai percobaan serangan teror.

Kronologi Mencekam dan Pendaratan Darurat

Insiden maut tersebut terjadi pada Rabu (30/10/2026) di atas wilayah udara Arab Saudi. Pesawat yang mengangkut lebih dari 170 penumpang dan awak tersebut mayoritas diisi oleh warga negara Israel.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan dari Flightradar24, pesawat sempat mengalami penurunan ketinggian secara drastis hingga mencapai 16.625 kaki hanya dalam waktu 30 detik saat kopilot berupaya mengambil alih kemudi.

Bencana penerbangan dapat dihindari setelah para kru kabin bersama sejumlah penumpang bertindak cepat melumpuhkan kopilot di dalam kokpit. Beruntung, seorang pilot cadangan Flydubai yang kebetulan sedang menjadi penumpang dalam penerbangan tersebut segera mengambil alih kemudi pesawat. Ia berhasil mendaratkan pesawat secara darurat di Bandara Tabuk, barat laut Arab Saudi.

Pelaku langsung diamankan oleh otoritas Arab Saudi sebelum akhirnya diekstradisi dan dipindahkan ke Abu Dhabi, UEA, pada Kamis (1/10/2026).

Identitas Pelaku dan Penyelidikan Lintas Negara

Meskipun pemerintah UEA dan maskapai Flydubai belum merilis identitas tersangka secara terbuka, sumber yang mengetahui langsung jalannya penyelidikan mengungkapkan kepada Reuters, kopilot tersebut bernama Hammam al-Hammami, warga negara Oman.

Penyelidikan mendalam kini tengah dipimpin oleh otoritas UEA dengan melibatkan tim penyidik dari Israel. Penasihat Senior Presiden UEA Anwar Gargash menegaskan melalui platform X, negaranya menerapkan toleransi nol terhadap aksi terorisme maupun retorika ekstremis.

Di sisi lain, CEO Flydubai Ghaith al Ghaith dalam pernyataan resminya menyebut peristiwa di atas udara tersebut sebagai “insiden keselamatan” di dalam kokpit dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak berwenang.

Reaksi Otoritas Israel dan Isu Keamanan Rute

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi, tim penyidik Israel berkoordinasi langsung dengan pihak UEA untuk mengusut tuntas motif di balik aksi nekad tersebut. Netanyahu menyebut pelaku telah terpapar doktrinasi radikal ekstremis dan menunjukkan indikasi kuat berniat bunuh diri.

“Kami sedang menyelidiki apakah kopilot ini bertindak di bawah perintah pihak tertentu. Siapa pun yang terlibat dalam aksi ini akan membayar harga yang sangat mahal,” tegas Netanyahu.

Netanyahu juga mempertanyakan bagaimana seorang pilot asal Oman, negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, dapat ditugaskan memimpin penerbangan menuju Tel Aviv.

Sejak penandatanganan Abraham Accords pada 2020, hubungan diplomatik dan ekonomi antara UEA dan Israel berkembang pesat. Salah satu wujud nyata dari kerja sama tersebut adalah pembukaan jalur penerbangan komersial langsung seperti rute Dubai–Tel Aviv yang dioperasikan oleh Flydubai. Rute ini dengan cepat menjadi salah satu jalur tersibuk yang dimanfaatkan oleh wisatawan dan pebisnis Israel di kawasan Teluk.

Kendati demikian, integrasi lalu lintas udara ini membawa tantangan keamanan geopolitik baru, terutama terkait pemeriksaan latar belakang personel penerbangan dan risiko radikalisasi lintas negara. Insiden serangan di dalam kokpit FZ1073 menjadi preseden serius bagi industri penerbangan internasional, yang mendorong pentingnya evaluasi ketat terhadap protokol keamanan kokpit serta mekanisme penyaringan kru penerbangan pada rute-rute yang sensitif secara politik.

Tinggalkan komentar