Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kemungkinan meningkatkan intensitas operasi pengeboman terhadap Iran setelah Pemilu Sela pada 3 November 2026. Pernyataan ini disampaikan Trump setelah secara resmi menolak proposal penawaran damai terbaru dari Teheran karena dinilai tidak memenuhi kriteria Washington.
Dalam wawancara khusus dengan majalah Time, Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan menerima usulan dari Iran yang sejatinya telah ia tolak sejak tahun lalu. Ketika disinggung mengenai target spesifik dari potensi serangan udara susulan, Trump enggan membeberkan rincian operasional militer tersebut. “Saya tidak bisa memberitahukan hal itu kepada Anda. Anda menanyakan di mana lokasi yang akan kami bom, dan itu adalah informasi rahasia,” ujar Trump.
Sikap keras AS ini diiringi dengan pengerahan armada tempur besar-besaran di kawasan Timur Tengah, eskalasi serangan maritim di Selat Hormuz, serta pertempuran darat yang kian memanas di Yaman.
AS Bersiap Kerahkan Tiga Kelompok Tempur Kapal Induk
Guna mengantisipasi dinamika perang dengan Iran yang telah melampaui usia tujuh bulan sejak berkobar pada akhir Februari, Amerika Serikat menyiapkan pengerahan kekuatan angkatan laut berskala besar. Seorang pejabat militer AS mengonfirmasi bahwa tiga kapal perang utama yang mengangkut lebih dari 7.000 pelaut dan 2.000 Marinir kini sedang bergerak menuju Timur Tengah.
Armada tambahan ini mencakup Kelompok Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group) USS Theodore Roosevelt dan Kelompok Siap Tempur Amfibi USS Makin Island. Jika seluruh armada telah berkonvergensi pada akhir Oktober 2026, AS akan menempatkan tiga kapal induk sekaligus di kawasan tersebut, kehadiran militer terbesar sejak April 2026.
Saat ini, kapal induk USS George H.W. Bush dan USS George Washington (yang dikerahkan dari Pasifik untuk menggantikan USS Abraham Lincoln) telah berada di lokasi bersama Kelompok Amfibi USS Boxer. Secara keseluruhan, kekuatan ini melibatkan lebih dari 20.000 personel militer serta ratusan pesawat tempur udara.
Tanker Terbakar di Selat Hormuz dan Pembelaan Trump atas Netanyahu
Eskalasi maritim kembali memuncak pada Kamis setelah sebuah kapal tanker diserang oleh proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz. Menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), serangan tersebut memicu kebakaran di atas kapal, meski seluruh awak kapal dilaporkan selamat.
Selat Hormuz, jalur vital yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima komoditas minyak dan gas alam dunia, kini praktis lumpuh total sejak konflik bersenjata meletus pada 28 Februari 2026. Pasukan Iran secara rutin menembaki kapal-kapal komersial yang melintas demi mengamankan kendali atas perairan strategis tersebut.
Di sisi lain, Trump juga menggunakan kesempatan wawancaranya untuk menepis laporan media Israel yang menyebutkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menerima peringatan dini dari Presiden Uni Emirat Arab (UEA) terkait serangan besar Hamas pada 7 Oktober 2023. “Saya tidak bisa membayangkan hal tersebut. Jika Netanyahu mengetahui hal itu sebelumnya, dia pasti sudah mengambil tindakan pencegahan atau setidaknya menyiagakan pasukan,” tegas Trump menanggapi laporan yang telah dibantah keras oleh pihak Netanyahu.
Sanksi Ekonomi AS Incar Industri Otomotif dan Kereta Api Iran
Selain tekanan militer, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru yang membidik industri otomotif dan jaringan kereta api Iran. Langkah ini diambil untuk memperketat isolasi ekonomi dan memaksa Iran bertekuk lutut di meja perundingan.
Sanksi tersebut menyasar dua produsen otomotif terbesar Iran, yaitu Iran Khodro Co. dan SAIPA Iranian Automobile Manufacturing Co., serta sejumlah entitas asing pendukung yang berbasis di Indonesia, UEA, dan Jerman.
Pemerintah AS mencatat bahwa kampanye sanksi beruntun selama beberapa bulan terakhir telah menekan nilai tukar mata uang Iran ke rekor terendah dalam sejarah. Pemerintah AS menegaskan tidak akan menghentikan hukuman finansial ini meskipun dialog diplomasis antar kedua negara mulai dirintis kembali.
Pertempuran Memanas di Yaman dan Serangan Rudal ke Arab Saudi
Bentrokan sengit antara milisi Houthi yang disokong Iran dan pasukan pemerintah Yaman pecah di kawasan pemukiman Taiz Timur, sekitar 100 kilometer dari kota pelabuhan Mokha. Pertempuran ini memutus akses jalan utama yang menghubungkan Taiz dan Aden.
Manajer Rumah Sakit Al-Thawra, Abdelrahman al-Sabry, mengonfirmasi pihaknya telah menerima enam jenazah dan 35 korban luka-luka akibat bentrokan tersebut. Penjelajahan wilayah oleh Houthi di Mokha dan kepulauan Laut Merah menandai ekspansi teritorial terbesar kelompok tersebut dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 2022.
Sementara itu, pihak militer Arab Saudi mengonfirmasi telah mencegat dua rudal balistik di atas kota Jazan dan Khamis Mushait, serta empat drone di wilayah Khamis Mushait. Juru bicara militer Saudi, Jenderal Turki al-Maliki, menegaskan bahwa Kerajaan akan terus mengambil langkah tegas untuk memukul mundur milisi Houthi.
Pihak Saudi juga melaporkan serangan Houthi sempat mengenai stasiun distribusi listrik di wilayah Madinah dua hari sebelumnya, menyebabkan satu unit transformator padam tanpa mengganggu stabilitas jaringan listrik utama.
Ketegangan Diplomatik Iran dan Inggris
Di panggung diplomasi Eropa, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Inggris di Teheran untuk menyampaikan protestasi keras. Langkah diplomatis ini dipicu oleh pernyataan PM Inggris Andy Burnham yang menghubungkan Iran dengan dugaan plot sabotase di pangkalan udara RAF Fairford.
Teheran membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai klaim yang “sama sekali tidak berdasar”. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyuarakan kritik senada melalui platform X (dahulu Twitter) dan meminta pemerintah Inggris untuk segera memberikan penjelasan resmi serta mengubah orientasi kebijakannya terhadap Iran.
Eskalasi militer dan diplomasi yang terjadi saat ini tidak terlepas dari rentetan peristiwa kompleks yang mengguncang kawasan Timur Tengah selama beberapa tahun terakhir. Perang terbuka meletus setelah serangan udara gabungan AS dan Israel menargetkan fasilitas nuklir dan infrastruktur militer strategis di Iran. Serangan balik Iran melalui pemblokiran Selat Hormuz memicu krisis energi global dan pengerahan armada angkatan laut Barat secara masif.
Dalam menghadapi gempuran langsung AS dan Israel, Iran mengaktifkan jaringan sekutunya di kawasan, termasuk milisi Houthi di Yaman. Langkah Houthi menguasai Selat Bab el-Mandeb dan melancarkan serangan rudal ke wilayah Arab Saudi merupakan bagian dari strategi perang asimetris untuk memecah konsentrasi militer koalisi.
Adapun perang saudara Yaman yang telah berlangsung selama 12 tahun kian memburuk akibat kegagalan gencatan senjata 2022. Di sisi lain, sanksi ekonomi sekunder yang diterapkan AS, termasuk terhadap entitas di negara berkembang seperti Indonesia, menunjukkan skala global dari dampak perang ekonomi AS terhadap Iran.