Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (6/10/2026) pagi. Pelemahan ini terjadi di tengah meredanya prospek kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, menyusul data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perlambatan.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 08.00 WIB, harga Bitcoin turun 0,86% menjadi US$ 85.840 per koin atau setara Rp 1,53 miliar (asumsi kurs Rp 17.900 per dolar AS). Kapitalisasi pasar kripto global juga terpangkas 0,34% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,92 triliun.
Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, merosot 0,75%. Ethereum (ETH) melemah 0,54% ke US$ 2.712, sementara Binance Coin (BNB) anjlok 1,19% menjadi US$ 786.
Bitcoin mencatat kuartal III terbaik sejak 2017 dengan kenaikan sekitar 43%. Namun, melanjutkan reli menjadi lebih sulit karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang tinggi menawarkan alternatif investasi yang semakin menarik dibandingkan aset berisiko.
Delphi Digital menilai kenaikan Bitcoin kini menghadapi resistensi nyata. Kondisi ini terjadi setelah kenaikan suku bunga The Fed pada September dan lonjakan yield obligasi yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.
“Ketika obligasi pemerintah memberikan imbal hasil bebas risiko di atas 5%, setiap aset berisiko harus bekerja lebih keras untuk menarik dana investor,” tulis Delphi Digital dalam laporan mingguannya.
Meskipun demikian, Bitcoin masih mampu bertahan di tengah tekanan tersebut. Salah satu penopangnya adalah meningkatnya minat terhadap debasement trade, yaitu pandangan bahwa tingginya utang pemerintah dan ekspansi jumlah uang berpotensi menggerus daya beli dolar AS.
Managing Partner perusahaan modal ventura kripto Arche Capital, Vanessa Grellet, menilai strategi tersebut tidak selalu membutuhkan suku bunga rendah. Menurutnya, investor kini semakin memperhatikan defisit fiskal AS dan meningkatnya beban bunga pemerintah.
Sebelumnya, Bitcoin sempat menembus US$ 87.000 pada pekan lalu sebelum kembali terkoreksi. Sejak pertengahan Agustus, Bitcoin masih menguat lebih dari 35%.
Di sisi lain, tekanan dari suku bunga terhadap Bitcoin berpotensi mereda setelah data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Ekonomi AS hanya menambah 29.000 lapangan kerja pada September, jauh di bawah perkiraan 80.000, berdasarkan laporan nonfarm payrolls terbaru dari Bureau of Labor Statistics. Data tersebut memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai mendingin.
Kondisi ini memberi ruang bagi The Fed untuk menahan diri dan tidak terburu-buru menaikkan suku bunga kembali. Sebelumnya, sejumlah pejabat The Fed juga telah mengisyaratkan bahwa bank sentral tidak perlu terburu-buru mengambil langkah lanjutan.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, yang merupakan anggota voting Federal Open Market Committee (FOMC) tahun ini, mengatakan tidak ada kebutuhan mendesak untuk kembali menaikkan suku bunga.
“Dengan kebijakan yang kami ambil pada pertemuan September, tidak ada kebutuhan untuk bertindak terburu-buru,” kata Williams dalam pidatonya pekan lalu.
Sementara itu, CME Group FedWatch Tool kini menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 24%, turun dari lebih dari 75% sepekan sebelumnya.