Harga Bitcoin (BTC) terpantau melonjak 2,01% pada perdagangan Senin (5/10/2026) pagi, mencapai US$ 86.462 per koin atau sekitar Rp 1,55 miliar. Kenaikan ini terjadi di tengah penguatan kapitalisasi pasar kripto global yang mencapai US$ 2,94 triliun dan Indeks CoinDesk 20 yang meningkat 1,97%. Ethereum (ETH) naik 1,24% menjadi US$ 2.725, sementara Binance Coin (BNB) menguat 1,35% ke US$ 795.
Sebelumnya, harga Bitcoin sempat berada di kisaran US$ 75.000 pada pertengahan September 2026, sebelum akhirnya menembus US$ 87.000 pada 23 September. Setelah itu, aset kripto utama ini mengalami koreksi dan bergerak stabil di rentang US$ 83.000 – 85.000.
Meskipun terjadi penguatan, permintaan dari pasar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tanda-tanda belum pulih sepenuhnya. Perbedaan kekuatan pasar antara AS dan Eropa terlihat jelas, di mana pasar Bitcoin Eropa menguat sekitar 4% sejak awal September, sementara pasar AS justru turun sekitar 3% dalam periode yang sama.
Indikator Coinbase Premium Index, yang membandingkan harga Bitcoin di Coinbase dengan platform global seperti Binance, menunjukkan kondisi ini. Indeks tersebut tercatat negatif selama 29 hari berturut-turut hingga awal Oktober, dengan kisaran minus 0,01% hingga minus 0,03%. Hal ini mengindikasikan permintaan pembeli AS belum sekuat pasar global.
Data permintaan spot dari CryptoQuant juga memberikan sinyal serupa. Apparent spot demand tercatat mengalami kontraksi sekitar 170.000 BTC dalam periode 30 hari hingga awal Oktober.
Namun, arus dana ke produk investasi Bitcoin di AS belum sepenuhnya melemah. Pada pekan 21-25 September 2026, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$2,39 miliar, menjadi arus masuk mingguan terbesar dalam setahun terakhir. Produk BlackRock dan Fidelity menjadi pendorong utama aliran dana ini.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan investor AS belum seragam. Arus dana ETF yang kuat mencerminkan minat investor institusi dan penasihat investasi, tetapi pelemahan Coinbase Premium mengindikasikan aktivitas pembelian di bursa belum mengikuti penguatan tersebut.
Eropa Mulai Menonjol
Sementara itu, pasar Eropa mendapatkan katalis positif dari penambahan produk investasi kripto. Pada 29 September 2026, HANetf meluncurkan produk Bitcoin exchange-traded commodity (ETC) dengan perlindungan nilai terhadap euro. Produk ini memberikan eksposur terhadap Bitcoin tanpa mengharuskan investor mengelola dompet atau private key secara langsung.
Fitur euro-hedged dirancang untuk mengurangi risiko perubahan nilai tukar bagi investor berbasis euro. Hal ini penting mengingat Bitcoin pada dasarnya dihargai dalam dolar AS, sehingga investor Eropa menghadapi risiko dari pergerakan harga Bitcoin sekaligus nilai tukar.
Peluncuran produk ini bertepatan dengan semakin terbentuknya kerangka regulasi kripto Eropa melalui Markets in Crypto-Assets (MiCA).
Sentimen Kebijakan The Fed dan Data Tenaga Kerja
Pergerakan Bitcoin pekan ini juga akan dipengaruhi sentimen kebijakan The Fed. Investor menanti rilis FOMC Minutes pada Rabu (7/10/2026), setelah data tenaga kerja AS September menunjukkan pelemahan cukup tajam.
Data penggajian (payrolls) AS September hanya bertambah 29.000, jauh di bawah konsensus sekitar 90.000. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2% dari 4,1%. Data ini meningkatkan harapan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada Oktober.
Namun, yield US Treasury 10 tahun yang masih tinggi dapat menjadi penghambat bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Oleh karena itu, investor Bitcoin perlu mencermati tiga indikator utama dalam waktu dekat: Coinbase Premium Index untuk melihat kembalinya pembeli AS, arus dana ETF untuk mengukur minat institusi, serta perkembangan produk investasi kripto di Eropa. Penguatan Bitcoin ke atas US$ 86.000 menjadi sinyal positif, namun keberlanjutan kenaikan masih bergantung pada apakah permintaan spot kembali menguat atau tetap terkonsentrasi pada produk investasi tertentu.