Bitcoin (BTC) tengah memasuki periode bulan terkuatnya secara historis. Namun, laju aset kripto andalan ini diprediksi akan menghadapi empat tekanan utama yang berpotensi mempengaruhi pergerakannya. Keempat tekanan tersebut meliputi likuiditas pasar yang tipis, melemahnya permintaan dari ETF, ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, serta tenggat waktu pembayaran kembali oleh Mt. Gox.
Saat ini, harga Bitcoin (BTC) terpantau berada di kisaran Rp 86.106, menunjukkan kenaikan tipis sebesar 1,32% dalam 24 jam terakhir. Analisis dari beincrypto menguraikan empat faktor utama yang akan menjadi beban bagi harga Bitcoin bulan ini.
Pasokan Stablecoin Masih Lemah
Analis Darkfost mengamati bahwa likuiditas yang mengalir ke pasar aset kripto masih belum memadai. Kapitalisasi pasar stablecoin tercatat mengalami penurunan sebesar US$ 14 miliar sejak Mei, mengindikasikan adanya arus keluar dana yang signifikan. Meskipun pasokan stablecoin telah menunjukkan pemulihan sekitar US$ 4 miliar sejak September, mencapai total sekitar US$ 270 miliar, Darkfost menilai rebound ini masih terlalu lemah untuk mendorong Bitcoin mencapai level tertinggi baru.
“Meski saat ini trennya mulai berbalik, namun tetap terlalu lemah, dan masih perlu lebih banyak dorongan agar Bitcoin bisa menuju level tertinggi baru,” tulisnya. Kendati demikian, terdapat indikasi holder besar mulai menambah modal secara hati-hati. Peningkatan arus masuk stablecoin senilai lebih dari US$ 1 juta ke Binance tercatat sebesar 40% dalam 30 hari terakhir, mencapai US$ 30,5 miliar. Namun, angka ini masih jauh di bawah puncak US$ 61 miliar yang tercatat pada Oktober 2025.
Analis tersebut menambahkan, “Perilaku ini sepertinya terbelah antara faktor musiman Bitcoin, dengan Oktober yang sangat dinantikan, dan lingkungan yang diwarnai oleh konflik, inflasi, serta kenaikan yield obligasi yang terus-menerus.”
Permintaan ETF Mulai Surut
Permintaan dari investor institusional melalui Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot juga menunjukkan tren penurunan. Setelah sempat mencatat arus masuk harian terbesar dalam hampir setahun terakhir sebesar US$ 998,95 juta pada 21 September, arus masuk dana ETF mengalami penurunan dalam lima sesi berturut-turut hingga hanya mencapai US$ 31,07 juta pada 28 September. Puncaknya, pada 30 September, ETF Bitcoin membukukan arus keluar bersih sebesar US$ 148,69 juta, mengakhiri rentetan sembilan hari arus masuk.
Meskipun arus kembali positif pada 1 Oktober dengan US$ 102,67 juta, total dana yang diterima dalam empat sesi dari 28 September hingga 1 Oktober hanya US$ 51,25 juta. Angka ini jauh menurun dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai US$ 2,39 miliar. Aktivitas perdagangan harian di 12 ETF juga menurun dari US$ 4,57 miliar pada 21 September menjadi US$ 1,97 miliar pada 1 Oktober.
Konflik Iran Berdampak Ganda
Konflik geopolitik yang melibatkan Iran turut mempengaruhi harga Bitcoin. Pada 2 Oktober, Bitcoin sempat reli mendekati US$ 87.000 sebelum serangan tanker di Selat Hormuz meredam kenaikan tersebut. Meskipun harga minyak relatif stabil, pasar kripto bereaksi cepat terhadap berita serangan tanker keenam dalam sepekan itu. Washington dilaporkan telah mengirim dua baterai rudal Patriot tambahan untuk melindungi lokasi energi di Arab Saudi dan Qatar, serta menambah kapal perang dan pasukan.
Iran sendiri menyatakan Selat Hormuz akan tetap tertutup hingga Amerika Serikat memenuhi tujuh syarat kesepakatan Juni. Mengingat Bitcoin diperdagangkan 24 jam, aset ini sangat rentan menyerap setiap perkembangan kabar perang yang muncul di akhir pekan. Tekanan diperkirakan dapat meningkat menjelang akhir bulan, terutama jika Presiden Trump melanjutkan rencana pemboman ke Iran setelah pemilu sela pada 3 November. Sebaliknya, sinyal perdamaian dari Trump sebelumnya sempat mendorong Bitcoin menembus US$ 81.000.
Tenggat Waktu Mt. Gox di Akhir Bulan
Tekanan signifikan lainnya diperkirakan terjadi di akhir bulan, terkait dengan tenggat waktu pembayaran kreditur oleh Mt. Gox. Wallet yang terafiliasi dengan Mt. Gox menyimpan sekitar 34.387,5 BTC, bernilai US$ 2,88 miliar. Berdasarkan tenggat waktu yang disetujui pengadilan, trustee harus menyelesaikan pembayaran kepada kreditur sebelum 31 Oktober.
Terdapat dua kemungkinan skenario: jika ada perpanjangan tenggat waktu seperti yang terjadi tahun lalu pada 27 Oktober 2025, maka BTC tidak akan masuk ke pasar. Namun, jika distribusi dilakukan sesuai jadwal, para kreditur berpotensi menjual BTC yang mereka terima, yang dapat menekan harga. Pola musiman sebelumnya juga menunjukkan volatilitas di bulan Oktober, di mana Bitcoin sempat turun 3,69% pada Oktober 2025, menjadi Oktober pertama dengan kerugian sejak 2018. Arus masuk ETF dan pasokan stablecoin akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah modal baru akan masuk sebelum keputusan terkait Mt. Gox diambil.