Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (2/10/2026) pagi. Kenaikan ini sejalan dengan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang kembali dari level tertingginya dalam lebih dari dua dekade.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.45 WIB, harga Bitcoin hari ini melonjak 1,64% menjadi US$ 84.832 per koin atau setara dengan Rp 1,52 miliar, dengan asumsi kurs Rp 17.943 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar aset kripto global turut mengalami lonjakan sebesar 0,99% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,89 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga meningkat 1,11%. Ethereum (ETH) tercatat naik 0,79% ke level US$ 2.705, sementara Binance Coin (BNB) menguat 0,26% menjadi US$ 771.
Penguatan Bitcoin ini terjadi setelah imbal hasil obligasi AS berbalik arah dan turun dari level tertinggi multidekade. Yield obligasi 10 tahun sempat menyentuh angka 5,342%, level yang terakhir kali terlihat pada April 2002, sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran 5,251%.
Penurunan imbal hasil obligasi tersebut memberikan ruang bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin, untuk bergerak menuju penguatan. Pada perdagangan Kamis (1/10/2026), Bitcoin juga sempat menembus level US$ 84.000 ketika imbal hasil obligasi AS mulai menunjukkan pelemahan.
Meskipun momentum jangka pendek menunjukkan perbaikan, Bitcoin masih berpotensi menghadapi risiko koreksi. Data dari CoinGlass mengindikasikan area US$ 84.500 dan US$ 82.900 sebagai zona likuiditas penting yang berada di sekitar harga Bitcoin saat ini.
Potensi Uji Support Bitcoin
Trader dan analis Rekt Capital memperkirakan bahwa Bitcoin memiliki potensi untuk kembali menguji area support di kisaran US$ 82.500. Menurutnya, keberhasilan Bitcoin dalam mempertahankan level tersebut dapat membuka jalan bagi kelanjutan tren kenaikan harga.
Namun, proses pengujian ulang support ini diprediksi akan berlangsung volatil. Rekt Capital sebelumnya telah menilai bahwa kemampuan Bitcoin untuk bertahan di level US$ 82.500 merupakan salah satu faktor penentu krusial bagi keberlanjutan pemulihan harga aset kripto tersebut.
Dalam 24 jam terakhir, nilai likuidasi posisi kripto mencapai sekitar US$ 25 juta. Angka ini menunjukkan bahwa posisi long dan short masih berada dalam jarak yang relatif berdekatan, yang berkontribusi pada pergerakan Bitcoin dalam rentang yang cukup ketat.
Pergerakan aset kripto di masa mendatang masih akan sangat dipengaruhi oleh arah pergerakan yield obligasi AS serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data inflasi PCE AS yang dilaporkan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya belum memberikan dampak signifikan terhadap sentimen pasar, karena fokus investor masih tertuju pada tekanan yang terjadi di pasar obligasi dan data inflasi.