Jumlah pengguna aset kripto seperti Bitcoin terus meningkat secara global, mencapai 580 juta orang pada tahun 2023. Bitcoin dan Ethereum menjadi primadona dalam lonjakan adopsi ini.
Perkiraan terbaru menunjukkan lebih dari 4,8 juta perangkat penambangan Bitcoin beroperasi, mengamankan aset senilai US$ 1,7 triliun. Para penambang ini memegang peranan krusial dalam menjaga keamanan dan desentralisasi jaringan, sekaligus mencegah serangan siber.
Proses mining adalah komputasi terverifikasi yang dilakukan oleh jaringan penambang untuk memvalidasi transaksi Bitcoin, mengelompokkannya dalam blok baru, lalu menambahkannya secara permanen ke dalam blockchain. Tidak semua aset kripto dapat ditambang; mekanisme seperti Proof of Stake (PoS) menggunakan Crypto Staking dan tidak memerlukan penambangan.
Penambangan Bitcoin beroperasi menggunakan sistem Proof of Work (PoW). Para penambang harus memecahkan soal matematis kompleks dengan menebak angka acak (nonce) hingga hash blok mencapai target kesulitan yang ditentukan. Jaringan kemudian akan memverifikasi solusi tersebut.
Tingkat kesulitan penambangan disesuaikan setiap 2.016 blok, atau kira-kira setiap dua minggu. Penyesuaian ini bertujuan agar blok baru tetap ditemukan dalam rentang waktu sekitar 10 menit, terlepas dari jumlah daya komputasi yang berpartisipasi.
Rata-rata, jaringan Bitcoin menemukan blok baru setiap 10 menit. Namun, bagi satu penambang dengan perangkat ASIC 200 TH/s, dibutuhkan waktu sekitar 28 tahun untuk menambang 1 Bitcoin jika melihat hash rate jaringan saat ini.
Imbalan yang diterima penambang saat ini adalah 3,125 BTC per blok, berlaku sejak peristiwa halving pada April 2024 di blok 840.000. Halving berikutnya diperkirakan terjadi di blok 1.050.000 sekitar tahun 2028, yang akan memotong imbalan menjadi 1,5625 BTC.
Risiko dalam Penambangan Bitcoin
Para penambang menghadapi sejumlah risiko yang perlu dicermati.
Pendapatan penambang, yang diukur dengan hashprice (pendapatan per PH/s per hari), bisa sangat fluktuatif. Kenaikan sebesar 22,24% dalam 30 hari per 7 September 2026, dari US$ 32,42 menjadi US$ 39,63, dapat berbalik arah sewaktu-waktu.
Tingkat kesulitan penambangan yang terus meningkat, seiring bertambahnya jumlah penambang, akan mengurangi porsi pendapatan setiap perangkat. Ditambah lagi, peristiwa halving yang memotong separuh imbalan blok, semakin menekan potensi keuntungan.
Perangkat keras penambangan juga cepat usang. Munculnya unit ASIC yang lebih efisien mempersulit perangkat lama untuk bersaing dalam efisiensi dan kecepatan.
Selain itu, konsumsi listrik yang besar membuat aktivitas penambangan rentan terhadap perubahan tarif energi dan kebijakan pemerintah terkait penggunaan listrik.
Perhatikan Status Hukum Penambangan Bitcoin
Sebelum terjun ke dunia penambangan Bitcoin, penting untuk memahami berbagai model penambangan dan status hukumnya, terutama di Indonesia.
Tiga model penambangan yang umum dikenal adalah solo mining, pool mining, dan cloud mining. Pada solo mining, penambang menanggung semua biaya dan risiko sendiri dengan potensi imbalan besar namun peluang menemukan blok kecil. Pool mining memungkinkan penambang menggabungkan daya komputasi, dengan imbalan yang dibagi sesuai kontribusi masing-masing.
Sementara itu, cloud mining memungkinkan penambang menyewa daya komputasi dari penyedia tanpa perlu memiliki perangkat fisik. Namun, model ini memiliki risiko penipuan yang lebih tinggi karena penambang tidak dapat memverifikasi secara langsung perangkat atau hasil penambangan yang dijanjikan oleh penyedia.
Hingga kini, Indonesia belum memiliki peraturan yang secara eksplisit menyatakan legalitas atau ilegalitas aktivitas penambangan kripto. Hal ini menyebabkan minimnya perlindungan hukum, terutama jika terjadi penipuan, seperti yang berpotensi terjadi pada model cloud mining.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang telah menerbitkan regulasi terkait aset keuangan digital melalui POJK 27/2024. Namun, regulasi ini berfokus pada penyelenggara perdagangan aset kripto seperti bursa, kliring, dan kustodian, dan tidak secara spesifik mengatur aktivitas penambangan.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk melakukan penambangan Bitcoin, sangat disarankan untuk mendalami cara kerja prosesnya, potensi pendapatan yang bisa dihasilkan, serta memahami secara mendalam risiko penipuan yang mungkin timbul.