Peter Brandt Prediksi Bitcoin Capai US$600.000, Ini Rinciannya

Trader veteran ternama, Peter Brandt, memproyeksikan harga Bitcoin (BTC) berpotensi melonjak drastis hingga mencapai kisaran US$ 300.000 hingga US$ 600.000 dalam skenario terbaik pada siklus pasar mendatang. Prediksi ini didasarkan pada analisis pergerakan harga terbarunya.

Menurut laporan CoinTelegraph pada Selasa (29/9/2026), Brandt mengungkapkan titik terendah (bottom) harga Bitcoin kemungkinan telah terbentuk lebih awal dari perkiraan model siklusnya. Sebelumnya, ia memproyeksikan titik terendah baru akan terjadi di sekitar awal Oktober 2026. Namun, analisis terbarunya menunjukkan pasar kemungkinan besar telah menyentuh titik terendah pada akhir Juni 2026 sebelum memasuki fase konsolidasi sepanjang Juli dan Agustus 2026.

Pergeseran waktu sekitar enam hingga delapan minggu ini memaksa Brandt mengevaluasi ulang prediksinya, sekaligus memperkuat indikasi bahwa siklus bullish baru sebenarnya sudah mulai berjalan. Meskipun berpandangan positif untuk jangka panjang, Brandt tetap mengingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek pada awal Oktober menuju kisaran US$ 65.000 hingga US$ 68.000, bahkan berpotensi menyentuh US$ 61.000.

Penurunan ini, menurutnya, berfungsi untuk menyaring para pembeli yang masuk karena terdorong FOMO saat harga sempat melampaui US$ 84.000, sebelum pasar kembali melanjutkan pemulihannya. Sebagai analis yang lebih berfokus pada pergerakan harga (price action) ketimbang narasi makroekonomi, proyeksi jangka panjang Brandt terbilang bullish.

Selama titik terendah pada Juni 2026 tetap bertahan, ia menilai siklus kenaikan ini dapat berlanjut hingga akhir 2029. Dengan mengacu pada pola siklus historis dan peristiwa halving Bitcoin berikutnya pada 2028, Brandt memperkirakan harga Bitcoin dapat diperdagangkan di kisaran US$ 200.000 hingga US$ 250.000 pada awal 2029, sebelum akhirnya melesat menuju puncaknya di kisaran US$ 600.000.

Bagi para investor yang ingin memiliki portofolio kripto, Brandt menyarankan untuk tetap memprioritaskan aset-aset utama yang telah teruji. Ia menempatkan Bitcoin sebagai aset inti, didampingi alokasi yang lebih kecil pada Ethereum (ETH) dan Solana (SOL). Ia juga mengimbau agar investor menghindari spekulasi pada token-token baru yang belum memiliki rekam jejak jelas.

Meskipun meyakini ketiga aset utama tersebut akan mengalami kenaikan signifikan pada siklus berikutnya, Brandt memberi catatan penting mengenai dua ancaman jangka panjang bagi industri kripto. Ancaman tersebut adalah perkembangan teknologi komputasi kuantum (quantum computing) serta potensi pengetatan regulasi dari pemerintah.

Peter Brandt merupakan salah satu analis teknikal dan trader komoditas senior yang telah berpengalaman di pasar keuangan global selama lebih dari empat dekade. Pendekatannya yang berfokus murni pada analisis grafik dan pola pergerakan harga (price action) membuat pandangannya banyak dijadikan rujukan oleh para pelaku pasar kripto.

Secara historis, pergerakan harga Bitcoin bergerak dalam siklus empat tahunan yang dipengaruhi oleh peristiwa halving. Peristiwa ini adalah mekanisme otomatis dalam protokol Bitcoin yang memotong imbalan (reward) bagi para penambang menjadi separuhnya setiap 210.000 blok. Mekanisme ini dirancang untuk menjaga kelangkaan pasokan Bitcoin.

Dalam riwayat pasar, peristiwa halving selalu menjadi katalis utama pendorong gelombang kenaikan harga (bull run) signifikan dalam rentang waktu 12 hingga 18 bulan setelahnya. Dengan halving berikutnya yang diperkirakan jatuh pada 2028, proyeksi jangka panjang Brandt memberikan pencerahan mengenai peta jalan pergerakan aset kripto terbesar di dunia ini.

Tinggalkan komentar