Analisis: Sinyal Rebound Harga Emas di Tengah Tekanan Fundamental

Harga emas dunia yang sempat ambruk hingga 4% pada perdagangan Senin (29/9/2026) dan menyentuh level terendah US$ 4.111 per ons troi, kini mulai menunjukkan sinyal potensi pembalikan arah atau rebound dalam jangka pendek. Pada Selasa (29/9/2026), harga emas tercatat naik 0,6% menjadi US$ 4.139,1 per ons troi.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengemukakan bahwa level US$ 4.111 per ons troi menjadi area krusial yang perlu dicermati. Peluang rebound terlihat dari terbentuknya pola Bullish Engulfing pada grafik satu jam (H1) di sekitar level support tersebut.

“Selama support US$ 4.111 per ons troi mampu bertahan, harga emas berpotensi melakukan koreksi kenaikan menuju resistance terdekat di kisaran US$ 4.160 per ons troi hingga US$ 4.202 per ons troi,” tulis Geraldo dalam risetnya, Selasa (29/9/2026).

Pola Bullish Engulfing mengindikasikan adanya peningkatan tekanan beli setelah emas mengalami penurunan tajam. Meskipun demikian, Geraldo mengingatkan bahwa rebound ini masih berpotensi bersifat koreksi terhadap tren pelemahan sebelumnya.

Menurut Geraldo, area US$ 4.160–4.202 per ons troi merupakan level penting berikutnya. Respons harga di zona tersebut akan menentukan apakah penguatan emas dapat berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan jual.

Dari sisi fundamental, Geraldo menyatakan bahwa tekanan terhadap emas masih cukup kuat. Penurunan harga emas sekitar 4% pada Senin hingga mencapai US$ 4.111 per ons troi terjadi ketika yield obligasi AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed berikutnya.

Kenaikan yield obligasi menjadi salah satu faktor penekan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield obligasi meningkat, biaya peluang memegang emas juga ikut naik, sehingga daya tarik aset safe haven tersebut dapat berkurang.

Tekanan Belum Mereda

Geraldo menambahkan, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Ekspektasi ini turut membatasi ruang penguatan emas.

“Selain yield, penguatan dolar AS juga menjadi tekanan bagi harga emas. Dolar mendapat dukungan dari kenaikan yield obligasi dan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS,” tambah Geraldo.

Harga minyak yang masih tinggi di tengah ketegangan AS-Iran juga menambah kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Di sisi lain, Geraldo menyebutkan risiko geopolitik masih dapat menjadi penopang emas. Ketidakpastian hubungan AS-Iran dan gangguan arus energi di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

“Namun, untuk saat ini, tekanan dari kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang membatasi penguatan emas,” papar Geraldo.

Dengan demikian, peluang rebound teknikal emas dalam jangka pendek masih terbuka selama level US$ 4.111 per ons troi bertahan. Harga emas berpotensi menguji US$ 4.160–4.202 per ons troi, namun kenaikan ini masih perlu dilihat sebagai koreksi selama tekanan fundamental belum mereda.

Tinggalkan komentar