Proyeksi Bank Dunia: Ekonomi Asia Timur Pasifik Capai 4,5% di 2026

Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan perekonomian kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) akan tumbuh sebesar 4,5% hingga akhir tahun 2026. Laporan East Asia & Pacific Economic Update mencatat bahwa ekonomi kawasan ini menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan global.

Namun, Bank Dunia juga menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi tidak merata di berbagai negara dan sektor. Di sisi lain, adopsi Kecerdasan Buatan (AI) yang semakin meluas terus menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru.

“Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI,” ujar Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Carlos Felipe Jaramillo dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (6/10/2026).

Bank Dunia telah merevisi naik proyeksi ekonomi untuk beberapa negara di Asia Timur dan Pasifik. Vietnam diproyeksikan tumbuh 7,4%, naik 1,1 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Malaysia diperkirakan tumbuh 5,1%, mengalami kenaikan 0,7 poin persentase, sementara Thailand diprediksi tumbuh 2,0%, dengan revisi naik 0,7 poin persentase.

Untuk Indonesia, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi akan tetap tumbuh stabil di angka 5,2% pada tahun 2026 dan 2027. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 0,5 poin persentase dalam prakiraan untuk tahun 2026.

Dalam laporannya, Bank Dunia mengungkapkan bahwa negara-negara kepulauan Pasifik, yang rentan terhadap dampak kenaikan harga minyak, tumbuh sebesar 2,2%. Angka ini 0,5 poin persentase lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, China, sebagai ekonomi terbesar di kawasan ini, diprediksi tumbuh sebesar 4,4%. Pertumbuhan ini disebabkan oleh permintaan domestik yang masih terkendala oleh pasar tenaga kerja yang lesu dan penyesuaian yang sedang berlangsung di sektor properti.

“Tantangannya saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik bagi jutaan orang. Jika negara-negara EAP bertindak berani sekarang, AI dapat menjadi mesin yang kuat untuk membuka peluang, meningkatkan pendapatan, dan mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera bagi semua,” tambah Carlos Felipe Jaramillo.

Tinggalkan komentar