Saham Batu Bara Boy Thohir Melaju Kencang di Tengah Penguatan Komoditas

JAKARTA – Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi sorotan utama di antara emiten batu bara yang mencatatkan kenaikan harga signifikan sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD). Keduanya merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan sosok pengusaha Garibaldi Thohir atau yang akrab disapa Boy Thohir.

Berdasarkan data perdagangan hingga 2 Oktober 2026, saham AADI tercatat sebagai salah satu saham batu bara dengan penguatan terbesar, mencapai 65,59% YTD. Harga saham AADI melonjak dari Rp 6.975 pada akhir tahun 2025 menjadi Rp 11.550.

Sementara itu, saham ADRO juga menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan sebesar 38,12% YTD. Harga saham ADRO kini berada di level Rp 2.500, meningkat dari posisi Rp 1.810 pada akhir tahun lalu.

Kinerja impresif AADI dan ADRO terjadi bersamaan dengan penguatan harga batu bara secara global sepanjang tahun ini. Data menunjukkan harga batu bara secara YTD telah naik 41,42% hingga 2 Oktober 2026, memberikan sentimen positif yang kuat bagi saham-saham emiten komoditas ini.

Meskipun demikian, dinamika pergerakan saham batu bara tidak sepenuhnya seragam. Beberapa emiten berhasil mencatatkan kenaikan harga saham yang jauh melampaui penguatan harga komoditas, sementara sebagian lainnya justru mengalami koreksi tajam.

Selain AADI dan ADRO, sejumlah saham batu bara lainnya juga mencatat penguatan sepanjang 2026. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan kenaikan 37,66% YTD, dengan harga sahamnya mencapai Rp 3.180 dari Rp 2.310. PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) naik 30,6% menjadi Rp 5.250 dari Rp 4.020.

Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga menunjukkan tren positif dengan penguatan 15,2% menjadi Rp 25.200 dari Rp 21.875. PT Indika Energy Tbk (INDY) mengalami kenaikan 13,39% menjadi Rp 2.540 dari Rp 2.240. Sementara itu, saham PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mencatat penguatan tipis sebesar 3,69% menjadi Rp 8.425 dari Rp 8.125.

Kinerja Bervariasi di Sektor Batu Bara

Namun, tidak semua saham batu bara mampu mengikuti tren positif yang sama. Saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) tercatat mengalami penurunan 6,09%, dengan harga sahamnya berada di level Rp 1.465 dari Rp 1.560.

Penurunan yang lebih dalam terjadi pada saham PT Harum Energy Tbk (HRUM), yang terkoreksi 23,72% menjadi Rp 820. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga menunjukkan pelemahan signifikan sebesar 25,16%, kini diperdagangkan di Rp 11.750.

Tekanan terbesar sepanjang tahun berjalan dialami oleh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Ketiga emiten ini masing-masing terkoreksi 52,19%, 63,89%, dan 71,78%.

Pergerakan harga saham yang beragam ini menunjukkan kinerja sektor batu bara pada tahun 2026 sangat bervariasi, meskipun harga komoditas utamanya, yaitu batu bara, terus menguat. Pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, harga batu bara Newcastle untuk kontrak November 2026 ditutup menguat tipis 0,1% menjadi US$ 149,55 per ton.

Tinggalkan komentar