JAKARTA – Garibaldi Thohir atau Boy Thohir kini secara langsung tercatat sebagai pemegang saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) dengan kepemilikan lebih dari 1%. Sebelumnya, Boy Thohir telah berinvestasi di MGLV melalui dua perusahaannya, yaitu PT Trinugraha Thohir yang menggenggam 2,25% saham dan PT Trinugraha Thohir Harmoni dengan 4,86% saham.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 September 2026, Boy Thohir kini menguasai langsung 1,57% saham MGLV. Kepemilikan melalui dua entitas perusahaannya pun dilaporkan masih sama.
Saham MGLV sendiri telah mengalami kenaikan signifikan sebesar 575% sepanjang tahun berjalan. Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), saham MGLV ditutup pada level Rp 14.850.
Boy Thohir menyatakan bahwa pembelian saham ini merupakan bentuk keyakinannya terhadap fundamental dan kinerja positif MGLV. Langkah ini juga menjadi dukungannya terhadap perkembangan pasar modal nasional.
“Saya melihat prospek perusahaan menjanjikan di tengah pesatnya perkembangan infrastruktur teknologi masa depan,” ujar Boy Thohir pada Rabu (9/9/2026). Ia menambahkan bahwa perkembangan ekonomi digital, adopsi layanan cloud computing, artificial intelligence (AI), serta transformasi digital di berbagai sektor mendorong peningkatan kebutuhan infrastruktur pusat data yang andal, aman, dan berkapasitas tinggi.
Langkah ini juga sejalan dengan visi untuk memperkuat peran institusi pasar modal Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan partisipasi investor domestik. Boy Thohir meyakini bahwa banyaknya investor domestik di pasar saham akan menguatkan ketahanan pasar modal, terutama saat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell).
“Ini juga bentuk dukungan agar tercipta stabilitas di pasar modal terutama pasar saham di tengah ketidakpastian global,” jelasnya.
Perubahan arah strategis MGLV ke sektor infrastruktur teknologi masa depan telah menarik perhatian investor institusi. Keterlibatan ekosistem Trinugraha Thohir dengan entitas pengendali baru MGLV, PT Nextier Datamate Center (NDC), serta jajaran manajemen yang diperkuat oleh Glenn Sugita, dinilai menjadi katalis utama kenaikan valuasi MGLV.
Sinergi ini membawa misi besar untuk mengintegrasikan potensi pasokan energi nasional dengan kapasitas komputasi canggih. Melalui entitas anak, NDC (NexAI Digital Center), MGLV kini berfokus pada penyediaan infrastruktur data center yang dirancang khusus untuk menopang komputasi Artificial Intelligence (AI). Langkah ini merupakan respons terhadap lonjakan permintaan pemrosesan data berkecepatan tinggi di Asia Tenggara.
Manajemen MGLV menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan pasokan energi dengan infrastruktur digital modern. “Perseroan memandang bahwa kondisi tersebut menciptakan peluang usaha yang prospektif untuk mengembangkan kegiatan usaha yang selaras dengan kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi, sehingga diharapkan dapat mendukung diversifikasi usaha, menciptakan sumber pendapatan baru, serta memperkuat pertumbuhan usaha Perseroan secara berkelanjutan,” tulis keterangan manajemen MGLV dalam keterbukaan informasi BEI.
MGLV berencana mengembangkan fasilitas high-density data center yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan, pengelolaan, dan pemrosesan data, termasuk untuk mendukung layanan cloud computing, artificial intelligence (AI), serta kebutuhan infrastruktur digital lainnya. Pengembangan ini diharapkan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan para pemangku kepentingan.
Sementara itu, investor muda sekaligus founder dan chief investment officer (CIO) Hakimson.id, Andry Hakim, mengaku telah membeli saham MGLV dengan modal investasi hampir Rp 10 miliar. Keputusan ini diambil meski harga saham MGLV sudah melonjak dari ratusan rupiah menjadi sekitar Rp 4.000-an.
Andry Hakim menyebut rata-rata harga beli saham MGLV di kisaran Rp 4.000-an. Ia tertarik setelah melihat perubahan cerita bisnis MGLV, terutama setelah perusahaan yang sebelumnya bergerak di bidang furnitur mulai dikaitkan dengan ekosistem bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk data center AI.
“Sebenarnya untuk MGLV, saya tidak begitu dapat banyak informasi. Jadi waktu itu harganya sudah terbang dari ratusan perak ke Rp 4.000. Jadi harga beli saya rata-rata sekitar Rp 4.000-an,” ungkap Andry Hakim dalam podcast yang disiarkan Stockbit, dikutip pada Kamis (1/10/2026).
Salah satu pertimbangan Andry Hakim membeli saham MGLV adalah pola backdoor listing yang sebelumnya ia temui pada saham lain dan memberinya keuntungan besar, seperti pada PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), hingga PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE).