JAKARTA – Investor muda sekaligus founder dan chief investment officer (CIO) Hakimson.id, Andry Hakim, mengungkapkan pergeseran strateginya dalam berinvestasi. Ia menyatakan tidak lagi menganggap saham-saham konglomerat menarik, terutama setelah mengalami kerugian finansial yang signifikan dan menyadari keterbatasan kontrolnya terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.
Perubahan pandangan ini muncul seiring dengan pertumbuhan dana kelolaannya. Andry mengaku sering ditanya mengapa ia masih memilih saham yang kurang likuid dibandingkan saham perusahaan konglomerasi. “Main saham konglo sudah tidak menarik menurut saya,” tegas Andry Hakim dalam sebuah podcast yang disiarkan Stockbit, dikutip pada Sabtu (3/10/2026).
Ia memberikan contoh pengalamannya pada awal tahun ini, di mana ia mengalami kerugian besar atau drawdown pada saham CDIA. Akibatnya, Andry terpaksa melakukan cut loss dengan nilai kerugian mencapai Rp 25 miliar. Pengalaman serupa juga terjadi pada saham COIN, yang menurutnya merugikan hampir Rp 15 miliar. “Saya merasa, aduh capek ya main saham-saham ini,” keluhnya.
Salah satu pelajaran berharga datang dari pengalamannya berinvestasi di saham RMKE. Andry membeli saham tersebut setelah bertemu dengan pemilik perusahaan, saat RMKE berpeluang masuk ke dalam indeks MSCI. Namun, saham RMKE akhirnya tidak berhasil masuk indeks MSCI dan justru mengalami penurunan harga. Kondisi ini, menurut Andry, menunjukkan keterbatasannya sebagai investor ketika keputusan pihak lain dapat memengaruhi investasinya tanpa bisa ia kendalikan.
“Kita tidak mungkin untung terus. Ada juga saya yang gagal. Saya gagal dulu di KARW. Terus RMKE. Itu dua yang terakhir. Jadi saya merasa, aduh susah ya tidak ada kontrol,” ungkapnya.
Pengalaman-pengalaman tersebut mendorong Andry untuk kini lebih memilih investasi yang memberinya kepemilikan saham lebih besar. Ia mencontohkan pembelian saham sebesar 5% atau 10% agar dapat membangun hubungan dengan pemilik perusahaan sekaligus memiliki bargaining power.
Andry juga mengenang pengalamannya berinvestasi pada saham ARTO, BBHI, dan PANI yang sempat menuai kritik pedas. Khusus mengenai PANI, ia menceritakan bagaimana ia sempat menerima cibiran ketika harga sahamnya berada di level Rp 800, sebelum kemudian saham tersebut sempat melonjak mencapai level tertinggi Rp 18.000. “Di PANI dulu waktu harga Rp 800, saya dihujat otak kecoa. Terus, tertinggi pernah Rp 18.000. Kecoanya terbang, bro,” ujar Andry Hakim.