Rupiah Menguat di Akhir September, BI Ungkap Tiga Instrumen Penjaga Stabilitas

Nilai tukar rupiah (IDR) berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Rabu, 30 September 2026. Pada sore hari, rupiah ditutup menguat 87 poin atau 0,48% ke level Rp 17.894 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di Rp 17.981 per dolar AS.

Penguatan rupiah ini terjadi di tengah upaya damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Qatar di Timur Tengah. Pekan sebelumnya, Iran telah mengajukan proposal tujuh hari yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas maritim normal, asalkan syarat-syarat terpenuhi. Namun, proposal tersebut ditolak oleh Presiden AS Donald Trump, yang kemudian memicu upaya mediasi lebih lanjut oleh Qatar.

Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa bank sentral AS tidak terburu-buru menaikkan suku bunga. Williams menekankan bahwa stabilitas harga merupakan fondasi penting bagi perekonomian, dan inflasi diperkirakan akan mereda seiring sebagian besar guncangan ekonomi telah berlalu.

Di sisi domestik, Bank Indonesia mengungkapkan tiga instrumen yang digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada pekan ini, setelah sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Tiga instrumen tersebut meliputi kebijakan operasional melalui instrumen spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Non Deliverable Forward (NDF).

“Sehingga bagi pelaku pasar dengan kebutuhan pemenuhan kewajiban impor maupun pembayaran impor yang dapat ditunda, bisa dilakukan dengan DNDF. Hal ini merupakan bagian untuk mendorong berkembangnya instrumen hedging. Sementara, untuk pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF (Non Deliverable Forward) yang berada di pasar luar negeri, transaksi tersebut tetap berjalan ketika pasar domestik Indonesia ditutup,” jelas Ibrahim Assuaibi, Direktur PT. Traze Andalan Futures, dalam keterangannya pada Rabu (30/9/2026).

Tinggalkan komentar