JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali melanjutkan pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Pelemahan ini dipicu oleh berbagai sentimen eksternal yang menekan mata uang Garuda.
Pada penutupan perdagangan Kamis sore (1/10/2026), rupiah tercatat melemah 72 poin atau 0,40% ke level Rp 17.966 per dolar AS. Posisi ini merupakan pelemahan dari penutupan sebelumnya di angka Rp 17.894 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp 17.960 hingga Rp 18.030 per dolar AS untuk perdagangan hari Jumat. “Rupiah masih tertekan ragam sentimen eksternal,” ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Kamis (1/10/2026).
Salah satu sentimen eksternal yang membebani rupiah adalah dampak dari konflik di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Selain itu, data ekonomi Amerika Serikat yang baru dirilis juga turut menekan rupiah.
AS melaporkan kenaikan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebesar 0,2% pada bulan Agustus, tidak termasuk komponen makanan dan energi. Pada saat yang sama, belanja konsumen AS pada Agustus 2026 mencatat kenaikan tercepat dalam lebih dari satu tahun. Hal ini memperkuat keyakinan pasar bahwa perekonomian AS mampu bertahan di tengah suku bunga yang lebih tinggi.
Ketahanan ekonomi AS tersebut menjaga imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Pasar kini akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. “Kini, pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed,” kata Ibrahim.
Dari sisi domestik, prospek rupiah belum mendapatkan cukup sokongan dari rilis surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 sebesar US$ 3,55 miliar. Inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat naik sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan mencapai 3,28% secara tahunan.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di bulan sebelumnya. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di angka 52,4 pada September 2026, berbalik arah dari fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026.