JAKARTA – Andry Hakim, seorang investor muda yang juga menjabat sebagai founder dan chief investment officer (CIO) Hakimson.id, membagikan cerita mengenai kepemilikannya sebesar 10% di PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS). Keputusannya untuk berinvestasi di INPS tidak lepas dari ajakan anggota keluarganya serta proses negosiasi yang cukup alot untuk mencapai harga yang dianggapnya wajar.
Andry menjelaskan bahwa ia tidak langsung mendapatkan saham INPS dengan harga rendah. Menurutnya, harga yang ia peroleh merupakan hasil dari negosiasi panjang, terutama setelah sebelumnya ditawarkan harga yang lebih tinggi. “Itu hasil nego berbusa-busa,” ungkap Andry dalam sebuah podcast yang disiarkan oleh Stockbit.
Ia menambahkan bahwa akhirnya berhasil mendapatkan saham INPS dengan harga di kisaran seratusan rupiah per saham. Kini, harga saham tersebut telah melonjak ke kisaran seribuan rupiah. Alasan lain Andry bersedia berinvestasi adalah karena adanya hubungan historis dengan perusahaan yang rencananya akan masuk melalui skema backdoor listing ke INPS. Ia mengaku pernah bekerja di perusahaan tersebut selama hampir lima tahun.
Meskipun demikian, Andry enggan merinci lebih jauh mengenai bidang usaha perusahaan tersebut. Ia berpendapat bahwa informasi yang lebih detail sebaiknya disampaikan langsung oleh pihak perusahaan. “Saya suka keceplosan orangnya, bro,” ujarnya beralasan.
Andry menegaskan bahwa hubungan masa lalunya membuat ia cukup memahami perusahaan yang akan bergabung. Ia bahkan pernah turut membantu dalam pembangunan perusahaan tersebut. “Jadi saya ada histori sama perusahaan ini. Family saya bilang, ya sudah ikut juga saja. Dulu saya juga bantu bangun,” tuturnya.
Lebih lanjut, Andry menyebutkan bahwa kapitalisasi pasar (market cap) INPS saat ini masih berada di kisaran Rp 400-500 miliar dan belum mencapai Rp 1 triliun. Ia juga menyinggung kemungkinan adanya aksi korporasi seperti rights issue atau hak memesan efek terlebih dahulu. Menurutnya, salah satu langkah yang mungkin diambil adalah memperbaiki posisi ekuitas terlebih dahulu sebelum memasukkan aset.
Namun, Andry kembali menekankan bahwa pihak perusahaan lebih mengetahui jadwal dan detail rencana tersebut. “Saya tidak bisa ngomong lebih lanjut. Takutnya keceplosan ke mana-mana. Cuma menurut saya oke lah. Saya beli walaupun family,” ujar Andry.
Ia menegaskan bahwa keputusannya membeli saham INPS tetap didasarkan pada pertimbangan investasi yang matang. “Kalau misalnya tidak ada benefitnya, saya juga tidak mungkin beli. Buat apa saya masuk 10% tapi nanti rugi? Ini kan juga duit, bro. Bukan uang mainan,” tegasnya.