Kemen Ekraf Gelar FRAME, Perkuat Sinergi Media untuk Dorong Ekonomi Kreatif dan WCCE 2026

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf/Bekraf) menyelenggarakan Forum Redaksi & Aspirasi Media Ekraf (FRAME) di Jakarta pada Rabu (30/9/2026). Forum ini bertujuan menyatukan gagasan dan memperkuat pemahaman insan media mengenai kebijakan serta program prioritas pengembangan ekonomi kreatif nasional.

Dengan tema “United in Ideas, Empowering The Creative Economy”, acara yang dihadiri 30 pimpinan media nasional ini menjadi sarana mempererat kolaborasi. Selain itu, forum ini juga menyelaraskan agenda pembangunan ekonomi kreatif dengan mandat Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, serta mematangkan persiapan Indonesia sebagai tuan rumah The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa forum FRAME merupakan pijakan penting untuk membangun komunikasi dua arah antara pemerintah dan industri media. “Acara ini bertujuan untuk media dan Kementerian Ekraf agar semakin dekat, juga untuk mengenalkan lebih dalam tentang penugasan yang diberikan kepada kementerian ini, serta apa yang sedang dan akan kami lakukan. Selaras dengan Asta Cita, Ekraf sebetulnya berkontribusi dalam hal lapangan kerja untuk generasi muda dan menopang kelas menengah,” ujar Teuku Riefky dalam keterangan resminya.

Ekonomi Kreatif Lampaui Laju Pertumbuhan Nasional

Sektor ekonomi kreatif terus membuktikan peran vitalnya sebagai motor penggerak ekonomi baru Indonesia. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor ekonomi kreatif berhasil menembus Rp 1.757,87 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 6,86%. Angka ini melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11% dan melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 hingga 124%.

Sektor ini juga menjadi tumpuan utama penciptaan lapangan kerja produktif, di mana mayoritas tenaga kerjanya didominasi oleh generasi muda, yaitu millennial sebesar 36,63% dan Gen Z sebanyak 26,40%.

Perkuat Hak Kekayaan Intelektual dan WCCE 2026

Menatap panggung global, Menekraf Teuku Riefky menekankan pentingnya penguatan Hak Kekayaan Intelektual (IP) sebagai instrumen diplomasi lunak dan pendorong devisa negara. “Memperkuat hal tersebut, akan hadir WCCE karena ekraf ditugaskan pemerintah sebagai soft diplomacy. Jadi, tidak hanya seni budayanya yang kita bawa keluar, tetapi juga IP dari ekonomi kreatifnya supaya memberikan nilai ekonomi yang menambah devisa negara,” tambah Teuku Riefky.

Indonesia dijadwalkan kembali menjadi tuan rumah ajang bergengsi WCCE 2026. Forum tingkat dunia ini menargetkan lahirnya Jakarta Vision on Creative Economy untuk mengarusutamakan agenda ekonomi kreatif dalam pembangunan global pasca-SDG 2030.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menambahkan, WCCE 2026 mengusung pendekatan heksaheliks dan desentralisasi lokasi. Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengimplementasikan pendekatan heksaheliks secara penuh dalam ekosistem kreatif. “WCCE ini adalah untuk membawa resolusi ini ke United Nations. Selain itu, ini menjadi ajang di mana stakeholders akan berkumpul bersama dari government hingga business. Terlebih lagi WCCE bukan hanya ada plenary meeting tapi juga ada G2G meeting,” jelas Irene Umar.

Apresiasi dan Dukungan Penuh Pimpinan Media

Inisiatif Kemen Ekraf mendapat sambutan hangat dari para pemimpin redaksi media nasional. Wakil Pemimpin Redaksi TV One, Wahyu Kustyanto, menilai ekonomi kreatif sebagai pilar masa depan yang tidak akan lekang oleh waktu. “Kementerian Ekonomi Kreatif ini penting sekali. Ini bisa jadi pilar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Karena kan kalau kreativitas itu kan tidak ada matinya, sementara kalau sumber daya alam kan ada habisnya. Jadi harusnya memang negara, pemerintah harus serius betul menggarap ekonomi kreatif ini,” tutur Wahyu.

Pemimpin Redaksi MDTV Ponco Wijaya mengapresiasi komunikasi yang responsif dan pembinaan langsung terhadap industri penyiaran serta perfilman nasional. “Support pembinaan ekraf ke industri televisi dan film saat ini sudah bagus, sudah sangat cepat untuk komunikasi yang terjalin itu sangat baik,” kata Ponco.

Pembentukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif sebagai kementerian mandiri dalam Kabinet Merah Putih merupakan langkah strategis pemerintah untuk menggeser ketergantungan ekonomi dari sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas. Langkah ini selaras dengan salah satu pilar Asta Cita, yakni memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan kewirausahaan, serta mencetak lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda.

Dengan potensi pasar domestik yang besar dan tingginya proporsi penduduk usia produktif (Millennial dan Gen Z), koordinasi erat antara pemerintah, media, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan lembaga keuangan (heksaheliks) menjadi kunci utama agar karya kreatif lokal mampu naik kelas menjadi aset ekonomi berdaya saing global.

Tinggalkan komentar