Keluarga seorang wanita berinisial AAN, yang menjadi korban tuduhan pencurian amplop hajatan di Kalibata, Jakarta Selatan, angkat bicara mengenai kronologi kejadian yang dialami sepupunya. AMK, kerabat korban, menceritakan detik-detik saat AAN diduga mengalami penganiayaan dan diarak oleh sejumlah orang.
Peristiwa ini bermula ketika AAN sedang dalam perjalanan pulang usai berolahraga di kawasan Kalibata pada Minggu (27/9). Ia berjalan kaki sambil mengaktifkan aplikasi pelacak aktivitasnya, Strava, di sekitar Taman Makam Pahlawan menuju tempat kosnya.
Tiba-tiba, tiga orang dengan mengendarai motor menghampiri AAN. Tanpa banyak bertanya, mereka langsung menuduh AAN mengambil tas dan menggeledahnya. AMK menjelaskan bahwa AAN sangat bingung karena tidak mengetahui permasalahan yang dituduhkan kepadanya. Situasi semakin ramai ketika keluarga pelaku semakin banyak berkumpul mengerubungi AAN.
Dalam kejadian tersebut, AAN mengaku sempat dipukul di bagian pipi kanan hingga membuat hijabnya terlepas. Ia juga merasa ditarik secara kasar hingga terhuyung.
Selanjutnya, AAN dibawa secara paksa ke lokasi hajatan keluarga pelaku. Ia ditarik dan diarak dengan menaiki motor ramai-ramai, dengan dua orang laki-laki mengapitnya.
Di lokasi hajatan, AAN diminta mencocokkan pakaiannya dengan rekaman CCTV yang diduga menunjukkan pelaku pencurian amplop. Pelaku di CCTV tampak mengenakan gamis hitam dan sepatu putih. Namun, AAN merasa penampilannya sangat berbeda dengan yang ada di rekaman CCTV. Saat kejadian, AAN mengenakan kerudung merah, baju garis-garis, celana cokelat, dan sepatu putih. Di dalam tasnya memang terdapat pakaian bekas nge-gym yang berwarna hitam dan abu-abu.
AMK menduga tuduhan terhadap AAN hanya didasarkan pada kesamaan warna sepatu putih yang dikenakan AAN dengan pelaku di CCTV. Pihak keluarga pelaku kemudian mencari orang dengan ciri-ciri tersebut di sekitar lokasi hajatan.
Menariknya, lokasi hajatan tersebut ternyata berdekatan dengan kantor tempat AAN bekerja. Seorang sekuriti kantornya mengenali AAN dan ikut mendampinginya ke dalam gedung hajatan. Setelah dilakukan pencocokan pakaian, termasuk mencoba mengganti baju AAN dengan pakaian hitam, ternyata spesifikasinya sangat jauh berbeda dengan yang dituduhkan.
AAN akhirnya dilepaskan. Namun, ia merasa bingung, syok, dan trauma atas kejadian tersebut. Mengenai video permintaan maaf yang beredar, AMK mengklarifikasi bahwa itu adalah permintaan AAN sendiri sebagai bentuk pembelaan diri. Ia khawatir jika video arak-arakan dan tuduhan pencurian tersebut viral tanpa ada bukti pembelaan.
AMK membenarkan bahwa kasus ini telah dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan. Pihaknya berharap agar kasus ini diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.