JAKARTA – Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan pada September 2026, dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) tercatat naik ke level 52,4. Angka ini menandai kembalinya sektor manufaktur ke zona ekspansi, didorong oleh peningkatan pesanan ekspor baru dan penguatan aktivitas produksi secara keseluruhan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menjelaskan bahwa peningkatan pesanan ekspor baru telah terjadi selama dua bulan berturut-turut, bahkan mencapai laju pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022. “Artinya, penguatan aktivitas manufaktur pada September turut didorong oleh meningkatnya permintaan dari pasar ekspor,” ujar Shinta.
Penguatan aktivitas produksi ini juga mulai memberikan dampak positif pada pasar tenaga kerja, dengan perekrutan tenaga kerja mencatat pertumbuhan tercepat sejak Februari 2025. Selain itu, aktivitas pembelian input meningkat pesat, sementara persediaan input juga mengalami pertumbuhan tertinggi sejak Maret 2024. Tekanan biaya pun menunjukkan perbaikan, dengan inflasi harga input melambat ke level terendah dalam enam bulan, meskipun masih di atas rata-rata jangka panjang.
Salah satu indikator penting yang patut dicermati adalah peningkatan jumlah pekerjaan yang belum terselesaikan atau backlog. Menurut Shinta, backlog meningkat pada laju tercepat dalam lima tahun terakhir, menandakan adanya lonjakan pekerjaan yang belum terselesaikan seiring dengan bertambahnya pesanan. “Perkembangan ini perlu diikuti dengan kemampuan produksi yang memadai agar peningkatan permintaan dapat diterjemahkan secara optimal menjadi output,” tegasnya.
Shinta mengingatkan agar kenaikan PMI September dibaca secara proporsional. Penguatan dalam satu bulan adalah perkembangan positif, namun keberlanjutannya masih bergantung pada kekuatan permintaan global dan domestik, kondisi biaya produksi, daya saing, serta kemampuan perusahaan mempertahankan dan meningkatkan aktivitas produksi.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa penguatan PMI September sangat ditopang oleh pasar ekspor. Hal ini berarti kenaikan PMI tidak sepenuhnya mencerminkan perbaikan daya beli domestik, di mana kondisi permintaan masih beragam. Sebagian pelaku usaha merasakan peningkatan pesanan, namun sebagian lainnya masih menghadapi permintaan yang belum kuat.
Tantangan Sektor Manufaktur
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menambahkan bahwa aktivitas manufaktur masih menghadapi tantangan dari sisi biaya produksi dan daya beli masyarakat. Kenaikan aktivitas manufaktur perlu dilihat dari faktor pendorongnya, di mana pabrik menaikkan harga jual lebih karena mahalnya harga bahan baku dan pelemahan rupiah, bukan semata-mata lonjakan permintaan.
Dari sisi konsumsi domestik, masyarakat masih cenderung menahan belanja akibat kenaikan harga barang dan tekanan ekonomi, terutama pada kelompok kelas menengah ke bawah. Meskipun demikian, industri pengolahan tetap memegang peran strategis dalam perekonomian nasional, menyumbang 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I-2026 dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.
Prospek Kuartal IV dan Hilirisasi
Memasuki kuartal IV-2026, Shinta melihat prospek manufaktur yang lebih baik dengan momentum yang positif. Pesanan baru meningkat, ekspor menguat, produksi tumbuh, perekrutan tenaga kerja kembali meningkat, serta perusahaan mulai meningkatkan pembelian dan persediaan input. Namun, ketidakpastian global seperti perkembangan geopolitik, harga energi, kondisi keuangan global, nilai tukar, hingga potensi gangguan rantai pasok tetap menjadi risiko.
Ia menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor, penguatan daya saing produk, efisiensi logistik, kepastian regulasi, serta integrasi industri hulu-hilir untuk menjaga momentum tersebut. “Keberlanjutan momentum manufaktur akan sangat bergantung pada kemampuan industri untuk mempertahankan permintaan dan menerjemahkannya menjadi peningkatan produksi, produktivitas, dan investasi,” ujar Shinta.
Penguatan industri nasional melalui hilirisasi juga menjadi kunci. Shinta mencontohkan kinerja positif industri makanan dan minuman yang didukung konsumsi domestik, serta industri barang logam dan elektronik yang didorong peningkatan permintaan ekspor. Ia menekankan bahwa hilirisasi perlu menciptakan keterkaitan antara industri hulu, antara, industri hilir, UMKM, teknologi, logistik, tenaga kerja, dan pasar ekspor, tidak hanya berhenti pada pembangunan kapasitas produksi.
Survei terbaru S&P Global yang dirilis Kamis (1/10/2026) mengonfirmasi kenaikan PMI Manufaktur Indonesia menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus. Angka ini menandai perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026. Pesanan baru tumbuh pesat, mencerminkan peningkatan permintaan pelanggan dan dimulainya proyek baru. Kinerja ekspor juga turut menopang pemulihan dengan pertumbuhan pesanan ekspor baru tercepat sejak Mei 2022.
Penguatan permintaan ini mendorong produsen untuk meningkatkan produksi, dengan output manufaktur tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026. Peningkatan produksi dikaitkan dengan naiknya permintaan pelanggan, proyek-proyek baru, membaiknya daya beli, serta bertambahnya variasi produk. Aktivitas produksi yang meningkat juga berdampak pada kebutuhan tenaga kerja, dengan laju penciptaan lapangan kerja tercatat paling cepat sejak Februari 2025.
Namun, peningkatan kapasitas produksi belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan. Tumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan atau backlog meningkat pada laju tercepat dalam lima tahun, sementara persediaan barang jadi berkurang pada laju tercepat sejak Agustus 2020.