Apindo Dorong Hilirisasi Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas

JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendorong agar pengembangan hilirisasi di Indonesia tidak hanya berhenti pada peningkatan investasi dan kapasitas pengolahan bahan mentah. Apindo menginginkan hilirisasi berlanjut hingga penguatan industri lanjutan dan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.

Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menyatakan bahwa investasi hilirisasi menunjukkan tren positif selama hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, momentum ini perlu diikuti dengan pendalaman struktur industri agar manfaat ekonomi dari hilirisasi dapat dirasakan lebih luas.

Investasi hilirisasi pada tahun 2025 tercatat mencapai Rp 584,1 triliun, yang merupakan pertumbuhan sebesar 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menyumbang 30,2% dari total investasi nasional. Sementara itu, pada semester I-2026, investasi hilirisasi mencapai Rp 300,1 triliun, dengan pertumbuhan 6,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menurut Shinta, capaian tersebut mengindikasikan bahwa hilirisasi telah menjadi salah satu pendorong utama pembentukan kapasitas industri baru. Meskipun demikian, pengembangan hilirisasi perlu terus didorong hingga ke tahap industri antara (intermediate), komponen, pemasok domestik, manufaktur lanjutan, teknologi, penelitian dan pengembangan (research and development/R&D), hingga produk-produk bernilai tambah tinggi.

“Namun, kita perlu memastikan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan kapasitas pengolahan awal, tetapi berlanjut ke industri intermediate, komponen, supplier domestik, manufaktur lanjutan, teknologi, R&D, dan produk bernilai tambah tinggi,” kata Shinta saat dihubungi pada Selasa (29/9/2026).

Pengembangan lebih lanjut ini dinilai penting untuk memperkuat keterkaitan antarindustri dan memaksimalkan nilai tambah yang tercipta di dalam negeri. Penguatan rantai pasok domestik juga menjadi salah satu aspek krusial untuk memastikan manfaat hilirisasi yang lebih besar.

Semakin banyak industri nasional yang dilibatkan dalam rantai produksi, maka semakin luas pula peluang terciptanya nilai tambah di dalam negeri.

Dari sisi ekspor, perkembangan industri pengolahan juga menunjukkan kontribusi yang signifikan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan menyumbang 82,18% dari total ekspor Indonesia.

Meskipun demikian, Shinta menilai bahwa keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur hanya dari peningkatan nilai ekspor produk olahan. Aspek lain yang perlu diperhatikan mencakup besarnya nilai tambah domestik, kedalaman rantai pasok dalam negeri, transfer teknologi, serta keterlibatan industri nasional dalam rantai nilai global (global value chains).

Oleh karena itu, peningkatan ekspor perlu berjalan seiring dengan penguatan kemampuan industri domestik untuk menghasilkan produk yang semakin kompleks dan bernilai tambah tinggi.

Kualitas Lapangan Kerja

Selain penguatan industri, penciptaan lapangan kerja menjadi aspek penting dalam pengembangan hilirisasi. Shinta menjelaskan bahwa investasi nasional pada 2025 berhasil menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja, sementara pada semester I-2026 menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja.

Namun, ia menambahkan, intensitas penciptaan lapangan kerja per nilai investasi cenderung menurun seiring dengan meningkatnya investasi yang bersifat padat modal. Kondisi ini menunjukkan pentingnya melihat dampak investasi tidak hanya dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari produktivitas dan kualitas pekerjaan yang berhasil diciptakan.

Berdasarkan data yang disampaikan Apindo, pada Januari hingga September 2024, investasi sekitar Rp 1.261,43 triliun menyerap 1,88 juta tenaga kerja, atau sekitar 1.486 pekerja per Rp 1 triliun investasi.

Sementara itu, pada semester I-2026, investasi sebesar Rp 1.010,6 triliun menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja, atau sekitar 1.433 pekerja per Rp 1 triliun investasi.

Meskipun angka tersebut mencakup keseluruhan investasi nasional dan bukan hanya hilirisasi, data tersebut memberikan konteks mengenai tantangan penciptaan lapangan kerja di tengah perubahan karakter investasi yang semakin padat modal.

Oleh karena itu, Shinta menilai bahwa ukuran keberhasilan investasi dan hilirisasi ke depan perlu mencakup peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta dampak berganda (multiplier effect) yang lebih besar bagi perekonomian.

Shinta menambahkan, pengembangan hilirisasi juga berpotensi mendorong pemerataan aktivitas industri ke berbagai wilayah. Pada semester I-2026, sebanyak 75,7% investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa, yang menunjukkan persebaran investasi sekaligus pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa.

Tantangan ke depan adalah memastikan investasi tersebut tidak hanya membangun fasilitas pengolahan, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri pendukung, pemasok lokal, dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri.

Menurut Shinta, pemerintah perlu melanjutkan upaya mengatasi berbagai hambatan investasi dan memperkuat daya saing industri agar momentum hilirisasi dapat dikonversi menjadi percepatan industrialisasi pada tahap berikutnya.

“Dengan penguatan industri lanjutan, rantai pasok domestik, dan kualitas tenaga kerja, hilirisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi industri nasional dan masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar