JAKARTA – Pemerintah Nepal tengah mempersiapkan sebuah proyek ambisius senilai sekitar US$50 juta atau setara dengan Rp 775 miliar untuk menanggulangi ancaman banjir yang berasal dari danau-danau glasial di kawasan Himalaya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya risiko bencana akibat penyusutan gletser.
Fokus utama proyek ini adalah mengurangi volume air di empat danau glasial yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi. Keempat danau tersebut adalah Thulagi, Lower Barun, Lumding Tsho, dan Hongu II. Lokasinya berada pada ketinggian yang signifikan, berkisar antara 4.050 meter hingga 5.483 meter di atas permukaan laut.
Pendanaan proyek ini merupakan kolaborasi antara Green Climate Fund, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), serta pemerintah Nepal sendiri. Rencananya, proyek ini akan mencakup pembangunan sistem pengaliran air yang canggih, pemasangan sensor-sensor pemantau, pengembangan sistem prakiraan dan peringatan dini banjir, hingga upaya penguatan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di wilayah hilir.
Studi desain dan kajian teknis mendalam dijadwalkan akan dimulai pada tahun fiskal yang berlangsung hingga pertengahan Juli 2027. Setelah fase perencanaan selesai, pekerjaan konstruksi untuk pengurangan volume air melalui sistem pengaliran berpintu diperkirakan akan memakan waktu hingga enam tahun.
Subash Tuladhar, seorang pakar dari pusat riset pemerintah Nepal, menegaskan bahwa tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk menurunkan risiko jebolnya bendungan alami yang terbentuk dari danau-danau glasial tersebut. Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk mengurangi ancaman banjir yang dapat berdampak pada wilayah-wilayah di hilir.
“Tujuan kami adalah menurunkan risiko jebolnya bendungan alami danau-danau tersebut serta mengurangi ancaman banjir di wilayah hilir,” ujar Tuladhar, mengutip laporan Reuters pada Jumat (02/10/2026).
Urgensi pelaksanaan proyek ini semakin terasa setelah bencana terbaru yang dipicu oleh runtuhnya gletser pada bulan Agustus. Peristiwa tersebut mengakibatkan terjadinya longsor masif dan banjir bandang di wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok. Bencana ini dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 orang, sementara tim penyelamat masih terus berupaya mencari lebih dari 5.000 orang yang dilaporkan hilang.
Banjir bandang tersebut menyebabkan kerusakan parah pada belasan pembangkit listrik tenaga air, infrastruktur jalan dan jembatan, lahan pertanian, serta permukiman penduduk. Pemerintah Nepal memperkirakan bahwa kebutuhan dana untuk tahap pemulihan awal saja mencapai hampir US$5 miliar.
Dalam empat dekade terakhir, Nepal telah mencatat sekitar 26 kejadian banjir yang disebabkan oleh jebolnya danau glasial, fenomena yang dikenal sebagai Glacial Lake Outburst Flood (GLOF). Para ilmuwan iklim secara konsisten menilai bahwa kenaikan suhu global telah mempercepat penyusutan gletser di Himalaya, yang pada gilirannya membentuk danau-danau glasial yang cenderung tidak stabil.
Samjwal Ratna Bajracharya, mantan pakar dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), menjelaskan bahwa penurunan permukaan air danau sekitar 3 meter saja dapat secara signifikan membantu mengurangi risiko bencana. Ia menambahkan bahwa danau-danau tersebut terus membesar dan berpotensi jebol akibat berbagai faktor, termasuk gempa bumi, longsoran salju, perubahan kondisi iklim, maupun aktivitas manusia yang tidak terencana.