Sindikat Phishing Kartu Kredit Dibongkar, Gunakan BTS Palsu untuk Sebar SMS Penipuan

Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus pembobolan kartu kredit yang dilakukan oleh lima orang tersangka. Modus operandi yang digunakan adalah menyebarkan SMS berisi tautan menuju situs web palsu (phishing) dengan memanfaatkan perangkat yang disebut ‘fake BTS’.

Kasubdit IV Ditressiber Polda Metro Jaya AKBP Grawas Sugiharto menjelaskan bahwa tersangka menggunakan alat khusus untuk melakukan ‘blasting’ atau penyebaran SMS secara massal. Alat ‘fake BTS’ ini mampu menyimulasikan sinyal frekuensi GSM, sehingga perangkat ponsel di sekitarnya seolah-olah terhubung ke menara seluler asli, padahal itu adalah menara palsu.

Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan tiga korban yang menerima SMS penawaran promo dari pihak yang mengatasnamakan perbankan atau perusahaan e-commerce. SMS tersebut berisi iming-iming hadiah atau poin yang dapat ditukarkan, namun mengarahkan korban untuk mengklik tautan ke situs web palsu yang dirancang menyerupai aslinya.

“Ketika masuk ke website palsu tersebut, si korban diminta untuk memasukkan credit card,” ujar Grawas.

Tim penyelidik berhasil melacak aktivitas mencurigakan pada 31 Juli 2026, ketika sebuah mobil berwarna silver dengan plat nomor B 2755 XXX terdeteksi kerap mondar-mandir di area yang menjadi sasaran pelaku. Penggeledahan terhadap mobil tersebut menemukan alat ‘fake BTS’ yang sedang dioperasikan oleh seorang pengemudi berinisial GM.

GM mengaku bekerja atas perintah seseorang berinisial NL, yang bertugas mencari mobil dan pengemudi. Pengembangan kasus lebih lanjut mengarah pada penangkapan AGW, yang diketahui menggaji NL dan GM. Dari AGW, polisi mengamankan dua tersangka lain: JYI sebagai teknisi yang memasang alat ‘fake BTS’ di mobil, dan AD yang bertugas mengatur konten serta jumlah SMS yang akan disebarkan.

Dalam operasi ini, petugas menyita sejumlah barang bukti, termasuk satu unit mobil, rangkaian alat ‘fake BTS’ yang terdiri dari aki, amplifier, dan power supply, lima unit ponsel, serta buku rekening dan kartu ATM yang digunakan untuk operasional dan penerimaan dana hasil kejahatan.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa penyelidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya tersangka lain serta peran masing-masing dalam sindikat ini.

Tinggalkan komentar