Jaringan Pembobol Kartu Kredit Berkedok SMS Promo Dibongkar, Raup Puluhan Juta

Jakarta – Tim Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus pembobolan kartu kredit yang dilakukan oleh lima tersangka. Modus operandi yang digunakan adalah penyebaran SMS palsu (fake SMS) yang mengatasnamakan promosi perbankan atau e-commerce.

Dalam kurun waktu tiga bulan beroperasi, para tersangka diduga berhasil meraup keuntungan sekitar Rp 50 juta. Kasubdit IV Ditressiber Polda Metro Jaya AKBP Grawas Sugiharto menjelaskan bahwa total uang yang disita dari rekening para tersangka mencapai angka tersebut.

Modus operandi para pelaku terbilang canggih. Mereka menggunakan satu unit mobil yang telah dimodifikasi dengan berbagai perangkat, termasuk fake BTS (Base Transceiver Station), amplifier, UPS, dan aki sebagai sumber daya. Mobil ini dikemudikan oleh tersangka berinisial GM atas perintah dari tersangka NL.

Kedua tersangka ini rupanya bekerja di bawah arahan seorang bos berinisial AGW, yang juga ditetapkan sebagai tersangka. Menurut keterangan AGW, perangkat fake BTS tersebut dibeli secara online dari luar negeri dan diimpor dengan label amplifier.

Selain AGW, NL, dan GM, terdapat dua tersangka lain yang turut berperan. JYI bertindak sebagai teknisi yang memasang alat fake BTS ke dalam mobil, sementara AD bertugas mengatur isi dan jumlah SMS yang akan dikirimkan.

Para pelaku memetakan titik-titik keramaian, seperti stasiun KRL, stasiun MRT, dan pusat perbelanjaan, untuk melancarkan aksinya. Dalam sehari, mereka mampu mengirimkan hingga 20 ribu SMS blast. Penargetan waktu dilakukan pada jam sibuk, seperti jam berangkat dan pulang kerja, serta jam makan siang.

Kecepatan kendaraan yang digunakan dibatasi antara 30 hingga 40 Km/jam, mengingat jangkauan efektif dari alat fake BTS hanya berkisar 1 hingga 1,5 kilometer.

Terungkap bahwa AGW adalah otak dari kejahatan ini. Ia mempelajari modus operandi tersebut melalui video di Telegram dan kemudian mencoba mengembangkannya sendiri. Ia bahkan mengimpor perangkatnya secara mandiri.

Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan tiga korban yang menerima SMS berisi penawaran promo. SMS tersebut mengarahkan korban ke situs web palsu yang didesain mirip dengan situs asli perbankan atau e-commerce. Di situs palsu tersebut, korban diminta memasukkan detail kartu kredit mereka.

Setelah menerima laporan, tim penyidik melakukan serangkaian penyelidikan. Pada 31 Juli 2026, sebuah mobil yang dicurigai mondar-mandir di area yang sering menjadi target pelaku berhasil diidentifikasi.

Tim penggeledahan menemukan alat fake BTS yang sedang dioperasikan oleh GM. Dari keterangan GM, terungkap bahwa ia bekerja atas perintah NL, yang bertugas mencari mobil dan pengemudi. Pengembangan lebih lanjut mengarah pada penangkapan AGW, yang diketahui menggaji NL dan GM.

Dari AGW, penyidik berhasil mengidentifikasi dua tersangka lainnya, yaitu JYI sebagai teknisi dan AD sebagai pengatur konten SMS.

Barang bukti yang berhasil disita meliputi satu unit mobil, rangkaian alat fake BTS (aki, amplifier, power supply), lima unit ponsel, serta buku rekening dan ATM yang digunakan untuk operasional dan penerimaan dana. Penyidik masih terus mengembangkan kasus ini untuk mendalami peran tersangka lain yang mungkin terlibat.

Tinggalkan komentar