JAKARTA – Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Metro Jaya telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus pembobolan kartu kredit yang memanfaatkan modus SMS blast palsu atau fake SMS. Polisi merinci peran masing-masing tersangka dalam jaringan kejahatan ini.
Kasubdit IV Ditressiber Polda Metro Jaya, AKBP Grawas Sugiharto, menjelaskan kelima tersangka tersebut berinisial GM, NL, AGW, JYI, dan AD. Tersangka GM berperan sebagai pengemudi mobil yang dilengkapi dengan perangkat fake BTS, amplifier, UPS, dan aki sebagai sumber daya untuk menyebarkan SMS palsu.
“Dari saudara GM kemudian kami kembangkan, ia mengaku bekerja atas perintah atau suruhan saudara NL. Nah, saudara NL inilah yang kemudian kita dalami, dia perannya adalah pencari mobil untuk digunakan serta pencari driver,” ujar Grawas dalam konferensi pers di Gedung Bidhumas Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2026).
Pengembangan lebih lanjut dari keterangan NL mengarah pada tersangka AGW, yang disebut sebagai bos dari GM dan NL. AGW bertanggung jawab memberikan gaji kepada kedua tersangka tersebut.
“Penangkapan selanjutnya terhadap saudara AGW. AGW inilah yang kemudian menggaji saudara NL serta saudara GM,” ungkap Grawas.
Penangkapan AGW juga membuka jalan bagi penyidik untuk mengidentifikasi dua tersangka lainnya, yaitu JYI dan AD. JYI bertindak sebagai teknisi yang memasang alat fake BTS ke dalam mobil, sementara AD mengatur isi dan jumlah SMS yang akan dikirimkan.
“JYI selaku teknisi yang memasang alat fake BTS ke dalam mobil serta AD yang mengatur isi serta jumlah SMS yang akan di-blast oleh GM,” jelas Grawas.
Grawas menambahkan bahwa pihaknya masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini dan tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru yang akan terungkap. “Perkara ini masih kami kembangkan dan selanjutnya akan kami dalami keterkaitan serta peran-peran tersangka lainnya,” imbuhnya.
Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan tiga korban yang menerima SMS berisi promosi mengatasnamakan perbankan, e-commerce, maupun provider. SMS tersebut mengarahkan korban untuk mengklik sebuah tautan ke situs web palsu yang menyerupai situs web asli.
“Masing-masing itu menerima SMS yang berbeda. Ada yang dari perbankan, ada yang dari e-commerce, ada juga dari provider. Yang intinya mengatakan bahwa ‘Saldo poin plus-plus Anda sudah mau habis. Untuk menukarkan menjadi voucher atau menjadi barang, silakan klik link berikut ini’, dan diarahkan ke sebuah website yang palsu menyerupai website yang asli,” ungkap Grawas.
“Ketika masuk ke website palsu tersebut, si korban diminta untuk memasukkan credit card,” imbuh dia.
Tim Ditressiber kemudian melakukan penyelidikan intensif. Pada 31 Juli 2026, sebuah mobil berwarna silver dengan nomor polisi B 2755 XXX yang dicurigai terkait kejahatan SMS palsu ini berhasil ditemukan setelah terdeteksi kerap berputar di sekitar rute tertentu.
“Tim melakukan penyelidikan dan menemukan adanya mobil berwarna silver plat B 2755 XXX, yang diduga berjalan lambat dan kerap kali bolak-balik di sekitar rute yang kami sebutkan sebelumnya,” jelas Grawas.
Setelah melakukan penggeledahan, tim menemukan alat fake BTS yang dioperasikan oleh GM. Dari keterangan GM, penyidik mendalami peran NL sebagai pencari mobil dan sopir, yang kemudian mengarah pada AGW sebagai bos yang memberikan gaji.
Penyidik juga menyita barang bukti berupa satu unit mobil, rangkaian alat fake BTS yang meliputi aki, amplifier, dan power supply, lima unit ponsel, buku rekening, serta ATM yang digunakan untuk operasional dan penerimaan dana terkait kasus ini.
“Perkara ini masih kami kembangkan dan selanjutnya akan kami dalami keterkaitan serta peran-peran tersangka lainnya,” pungkasnya.