Penguatan kualitas pendidikan vokasi tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis siswa, tetapi juga pada kemampuan guru dalam mendampingi kesiapan mental, membangun resiliensi, dan membantu perencanaan karier peserta didik. Isu ini menjadi fokus pelatihan pendampingan psikologis dan orientasi karier bagi guru SMK yang digelar PLN Pusdiklat UPDL Surabaya.
Kegiatan ini menghadirkan tiga praktisi psikologi, yaitu Rudi Cahyono, M.Psi., Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si., dan Dr. Wiwin Hendriani, M.Sc. Manager PLN UPDL Surabaya, Nur Effendi, menyatakan bahwa peran guru tidak lagi terbatas pada penyampaian materi di kelas. Guru juga memiliki peran penting dalam membantu siswa membangun karakter dan kesiapan sebelum memasuki lingkungan kerja.
“Peran guru sangatlah penting dalam mendukung siswa di sekolah. Bapak dan Ibu adalah garda terdepan yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mematangkan karakter siswa sebelum mereka benar-benar terjun ke dunia industri,” ujar Nur Effendi.
Nur menambahkan, masukan dari para guru juga diperlukan untuk memahami kebutuhan riil pendidikan vokasi, termasuk persoalan yang dihadapi siswa dalam proses transisi dari sekolah ke dunia kerja. Kegiatan ini diikuti 60 guru SMK dari berbagai wilayah.
Pelatihan ini membahas tantangan yang dihadapi siswa vokasi ketika memasuki dunia kerja, terutama terkait karakter generasi muda, motivasi, daya juang, kemampuan beradaptasi, dan pemilihan jalur karier. Materi pelatihan dibagi ke dalam tiga pembahasan utama.
Karakteristik Generasi Z dan Ekspektasi Dunia Kerja
Pembahasan pertama meliputi karakteristik generasi Z dan ekspektasi mereka terhadap dunia kerja, termasuk kesenjangan antara budaya siswa dan tuntutan kedisiplinan di lingkungan industri.
Penguatan Motivasi, Grit, dan Resiliensi
Kedua, penguatan motivasi, grit, dan resiliensi. Pembahasan ini diarahkan pada cara guru membantu siswa membangun daya juang dan ketangguhan ketika menghadapi tekanan maupun kegagalan.
Perencanaan Karier
Ketiga, perencanaan karier yang menekankan pentingnya membantu siswa mengenali minat, bakat, dan peluang kerja yang sesuai dengan kompetensi mereka.
General Manager PLN Pusdiklat Y. Endah Cahyaningrum menjelaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan vokasi sangat berkaitan dengan kapasitas tenaga pendidik. Menurutnya, guru perlu dibekali kemampuan untuk mendampingi siswa tidak hanya dari sisi akademik dan teknis, tetapi juga dari aspek psikologis dan perencanaan masa depan.
“Dengan memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam hal motivasi dan perencanaan karier, kita sedang menyiapkan lulusan vokasi yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki resiliensi ketika memasuki dunia industri,” katanya.
Penguatan kemampuan guru dalam pendampingan psikologis dinilai menjadi makin relevan karena siswa SMK menghadapi fase transisi yang cukup kompleks. Mereka tidak hanya dituntut menguasai keterampilan kerja, tetapi juga perlu menyesuaikan diri dengan budaya organisasi, tekanan pekerjaan, serta perubahan kebutuhan industri.
Oleh karena itu, pendidikan vokasi memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Selain kompetensi teknis, sekolah juga perlu memperkuat literasi karier, kesiapan mental, kemampuan beradaptasi, dan pemahaman siswa terhadap dunia kerja. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu lulusan SMK memasuki pasar kerja dengan kesiapan yang lebih utuh, sekaligus memperkuat hubungan antara kebutuhan pendidikan dan dinamika industri.