Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami pelemahan terbatas pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi setelah IHSG ditutup menguat 27,39 poin atau 0,46% ke level 6.036 pada penutupan perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Sektor teknologi menjadi kontributor penguatan tertinggi sebesar 1,51%, sementara sektor industrials mengalami penurunan terdalam sebesar 1,7%.
Berdasarkan analisis teknikal, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support 5.935 dan resistance 6.120. Perusahaan riset ini menyoroti potensi The Fed untuk menahan kenaikan suku bunga dalam pertemuan bulan ini, mengingat berkurangnya pembukaan lapangan pekerjaan. Kenaikan suku bunga lebih lanjut dikhawatirkan akan menekan ekspansi perusahaan dan memperburuk kondisi bisnis.
Sementara itu, inflasi di Kawasan Eropa dilaporkan mengalami kenaikan. CPI MoM naik dari 0,4% menjadi 0,6%, dan CPI YoY naik dari 3,2% menjadi 3,8%. Kenaikan CPI Core YoY juga tercatat dari 2,4% menjadi 2,5%. Pilarmas memproyeksikan Bank Sentral Eropa kemungkinan akan menaikkan suku bunga sekali lagi pada Desember mendatang, sejalan dengan proyeksi inflasi yang telah diperkirakan.
Pilarmas melihat bahwa penurunan harga energi, perlambatan momentum ekonomi, dan pelemahan kondisi keuangan dapat meningkatkan peluang Bank Sentral Eropa untuk menurunkan suku bunga. Pekan ini diprediksi akan menjadi periode yang menantang bagi IHSG dan pasar obligasi, dengan sentimen data ekonomi yang lebih terbatas.
Dalam konteks pasar saham domestik, IHSG sedang dalam fase konsolidasi di level 5.950 hingga 6.160. Imbal hasil obligasi SUN 10y diperkirakan akan bergerak di kisaran 7,15%-7,2%. Minat perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih tergolong rendah. Hingga 2 Oktober 2026, baru 7 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI dengan total dana yang dihimpun sekitar Rp 2,16 triliun.
Di sisi lain, investor asing tercatat masih aktif melakukan aksi jual. Sepanjang 28 September hingga 2 Oktober 2026, net sell asing mencapai Rp 4,32 triliun, sehingga total net sell sejak awal tahun menembus Rp 82,5 triliun. Arus keluar dana asing ini turut menekan IHSG hingga turun 3,28% dalam sepekan.
Tekanan pasar ini terjadi bersamaan dengan penerapan sejumlah perubahan mekanisme perdagangan di BEI, termasuk penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp 1, serta dimulainya perdagangan short selling dan intraday short selling (IDSS) pada 1 Oktober 2026. Pilarmas menilai kondisi ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara pasar primer dan sekunder.
Perusahaan berhati-hati dalam masuk bursa karena kondisi valuasi dan permintaan investor yang belum optimal. Sementara itu, keluarnya dana asing mengurangi likuiditas pasar dan dapat meningkatkan volatilitas, sehingga menurunkan daya tarik IPO baru. Penerapan short selling dan IDSS berpotensi meningkatkan dinamika perdagangan dan volatilitas dalam jangka pendek, namun dapat menjadi katalis positif jangka panjang jika mampu meningkatkan likuiditas dan efisiensi pembentukan harga.
Pilarmas memperkirakan IHSG masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek selama arus keluar asing belum mereda. Investor cenderung lebih selektif dengan fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan katalis earnings yang jelas. Pemulihan aktivitas IPO diperkirakan baru akan menguat jika sentimen global membaik dan investor asing kembali mencatatkan inflow.
Untuk perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, Pilarmas Investindo Sekuritas memberikan rekomendasi saham ARCI, SMGR, dan SCMA untuk trading.