Saham PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ), pengelola CGV Cinemas, kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada sesi I perdagangan Senin (5/10/2026). Mengutip data perdagangan sekitar pukul 09.45 WIB, saham BLTZ melesat 24,72% ke level Rp 4.490 dan sempat menyentuh harga tertinggi dalam tiga tahun terakhir di Rp 4.500.
Dalam empat hari bursa terakhir, saham emiten bioskop ini secara konsisten melonjak lebih dari 24% setiap harinya. Jika dilihat dalam sepekan terakhir, saham BLTZ telah terbang lebih dari 142%, menunjukkan pergerakan yang luar biasa.
Menyikapi lonjakan harga saham yang tidak biasa ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menerbitkan pengumuman mengenai unusual market activity (UMA) terhadap saham CGV Cinemas. “Dalam rangka perlindungan Investor, dengan ini kami menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga saham PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) yang di luar kebiasaan (unusual market activity),” demikian bunyi pengumuman BEI.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan hingga Juni 2026, PT Graha Layar Prima tercatat mengoperasikan 72 bioskop CGV dan satu bioskop waralaba dengan nama CGV Cinema. Namun, pada keterbukaan informasi tanggal 19 Agustus 2026, manajemen BLTZ mengumumkan keputusan penutupan permanen bioskop CGV Studio Pekanbaru.
Penutupan ini merupakan tindak lanjut dari surat pemberitahuan penutupan operasional Nomor 2866/MKT/CP-PL/VII/2026 tertanggal 21 Juli 2026 yang ditandatangani bersama PT Citraciti Pacific selaku pengelola Plaza Citra Pekanbaru. Keputusan tersebut diambil berdasarkan berbagai pertimbangan internal, termasuk aspek bisnis dan operasional pengelolaan Plaza Citra Pekanbaru.
Secara finansial, sepanjang semester I-2026, perusahaan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 512,4 miliar, namun berbalik mengalami rugi bersih Rp 14,72 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan periode yang sama di tahun sebelumnya (semester I-2025), di mana perseroan masih mencetak laba bersih Rp 25,21 miliar.
Manajemen mengungkapkan bahwa Grup BLTZ melaporkan akumulasi kerugian senilai Rp 1,28 triliun dan modal kerja negatif sebesar Rp 349 miliar per 30 Juni 2026. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh situasi pandemi COVID-19 yang berdampak signifikan terhadap kegiatan bisnis dan ekonomi grup sejak awal tahun 2020. Meskipun demikian, manajemen menyatakan bahwa bisnis grup telah menunjukkan pemulihan perlahan seiring dengan pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Seluruh lokasi bioskop grup telah dibuka kembali dengan kapasitas maksimum sejak April 2022.