Ekonom Ingatkan Potensi “Efek Domino” Jika Bank Sistemik Terganggu

JAKARTA – Gangguan yang terjadi pada bank sistemik berpotensi memicu efek domino yang luas terhadap perekonomian dan sistem perbankan secara keseluruhan. Peringatan ini disampaikan oleh para ekonom di tengah beredarnya rumor mengenai pengambilalihan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, yang telah dibantah oleh manajemen BCA.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menjelaskan bahwa bank sistemik memiliki karakteristik unik yang berbeda dari bank pada umumnya. Kerusakan atau masalah pada bank jenis ini dapat menimbulkan dampak yang lebih signifikan dan meluas.

“Jika terjadi sesuatu terhadap bank tersebut, ekonomi dan sistem perbankan akan terdampak,” ujar Wijayanto, Senin (5/10/2026).

Wijayanto menekankan pentingnya isu pengambilalihan bank sistemik oleh pihak tertentu segera dihentikan. Hal ini karena isu semacam itu tidak hanya berisiko memicu politisasi di sektor keuangan, tetapi juga dapat merusak kepercayaan publik jika terus berkembang tanpa landasan fakta yang kuat.

Ia menambahkan, penentuan status bank sistemik tidak semata-mata didasarkan pada besaran aset. Faktor lain yang dipertimbangkan meliputi ukuran bank, keterkaitan dengan lembaga keuangan lain, tingkat kompleksitas kegiatan usaha, serta peran krusialnya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

Oleh karena itu, gangguan pada satu bank sistemik dapat mengikis kepercayaan masyarakat tidak hanya pada bank tersebut, tetapi juga pada sektor perbankan secara umum. “Kalau trust kepada bank tersebut turun, bank run bisa terjadi dan bank akan mengalami kesulitan likuiditas serta ekuitas sehingga berpotensi collapse. Ketika ini terjadi maka efek domino bisa muncul dimana bank lain ikut terjangkit masalah,” jelas Wijayanto.

Perkembangan teknologi digital saat ini juga mempercepat potensi perpindahan dana dalam skala besar. Hal ini berarti penurunan kepercayaan dapat dengan cepat berujung pada tekanan likuiditas yang serius.

Belajar dari Krisis Keuangan Global

Wijayanto mengemukakan bahwa sejumlah krisis keuangan global di masa lalu dipicu atau diperparah oleh runtuhnya kepercayaan terhadap bank sistemik. Contoh kasus yang terjadi antara lain pada Northern Rock dan Royal Bank of Scotland di Inggris (2007-2008), Fortis di Eropa (2008), Washington Mutual dan Lehman Brothers di Amerika Serikat (2008), serta Credit Suisse pada tahun 2023.

Namun, ia menilai bahwa sektor perbankan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih kuat berkat pembenahan regulasi dan kelembagaan pasca-krisis 1998. “Transformasi yang sudah baik ini perlu dilanjutkan, dan yang paling penting adalah agar sektor ini dijauhkan dari politisasi dan berbagai regulasi yang ada perlu dijalankan dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menekankan urgensi pemahaman konsep bank sistemik untuk mencegah dampak yang lebih luas jika lembaga tersebut mengalami gangguan. “Urgensi utama pengenalan konsep bank sistemik itu adalah pencegahan kegagalan sistemik. Termasuk juga perlindungan terhadap uang masyarakat, karena contagion effect-nya sangat tinggi,” kata Rahma.

Mengenai rumor akuisisi BCA oleh Haji Isam, manajemen BCA telah membantahnya secara resmi. Para ekonom menghimbau masyarakat dan pelaku pasar untuk selalu mengacu pada informasi resmi guna mencegah spekulasi yang dapat mengganggu stabilitas kepercayaan di sektor perbankan.

Tinggalkan komentar