JAKARTA – Sikap investor asing terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mendadak berubah. Setelah membukukan aksi beli bersih pada periode 24-28 September 2026, investor asing justru melancarkan aksi jual bersih saham BBCA pada Selasa (29/9/2026) senilai Rp 138,73 miliar.
Akibatnya, harga saham Bank Central Asia ditutup melemah 1,20% ke level Rp 6.150. Sebanyak 149,78 juta saham BBCA diperdagangkan dengan frekuensi 26.460 kali, dan total nilai transaksi mencapai Rp 923,01 miliar. Pada perdagangan sebelumnya, Senin (28/9/2026), saham BBCA juga sempat ditutup melemah 0,40%.
Pergerakan harga saham BBCA ini terjadi setelah merebaknya informasi yang tidak benar mengenai rencana akuisisi BCA. Manajemen BCA telah memberikan klarifikasi resmi terkait kabar tersebut. Sekretaris Perusahaan BCA, Rudy Budiardjo, menegaskan bahwa informasi mengenai rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA yang beredar di media sosial adalah tidak benar.
“Kami mengimbau nasabah dan masyarakat untuk mengakses informasi dari sumber-sumber yang resmi, baik dari situs resmi perusahaan maupun outlet media yang kredibel,” ujar Rudy dalam keterbukaan informasi yang dikutip, Rabu (30/9/2026).
Di tengah sentimen negatif tersebut, broker UOB Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 8.150, yang menawarkan potensi kenaikan sekitar 30% dari harga saat riset diterbitkan. UOB Kay Hian Sekuritas menempatkan BBCA sebagai saham pilihan teratas di sektor perbankan.
Alasan di balik rekomendasi tersebut adalah fundamental BCA yang dinilai solid, didukung oleh modal dan likuiditas yang memadai. Potensi rerating valuasi saham BBCA dapat terjadi apabila kinerja ekonomi makro Indonesia membaik dan terjadi aliran dana asing kembali masuk ke pasar saham.
Sebelumnya, BCA mencatatkan laba bersih (bank only) sebesar Rp 4,92 triliun pada Agustus 2026, menunjukkan pertumbuhan 13,1% secara tahunan. Akumulasi laba bersih BCA hingga bulan tersebut mencapai Rp 40,17 triliun, tumbuh 2,85%. UOB memproyeksikan laba bersih BCA pada 2026 dan 2027 masing-masing sebesar Rp 60 triliun dan Rp 65 triliun. Yield dividen untuk tahun 2026 diperkirakan 5,7%, dan diprediksi meningkat menjadi 6,1% pada 2027.