JAKARTA – Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh kombinasi lesunya permintaan ekspor dan antisipasi kenaikan produksi yang berpotensi meningkatkan stok.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 tercatat turun 33 Ringgit Malaysia menjadi 4.433 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 juga terpangkas 33 Ringgit Malaysia menjadi 4.523 Ringgit Malaysia per ton. Pelemahan berlanjut pada kontrak Desember 2026 yang melemah 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.624 Ringgit Malaysia per ton, serta kontrak Januari 2027 yang terkoreksi 43 Ringgit Malaysia ke posisi 4.731 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2027 turun 46 Ringgit Malaysia menjadi 4.830 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Maret 2027 melemah 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.926 Ringgit Malaysia per ton.
Harga CPO dilaporkan menyentuh level terendah dalam sepuluh pekan terakhir. Tekanan terhadap harga berasal dari pelemahan harga minyak nabati di pasar Dalian serta lemahnya permintaan ekspor. Survei dari sejumlah perusahaan inspeksi kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit mengalami penurunan antara 15,1% hingga 24,3% dalam 25 hari pertama September, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Agustus.
Di tengah melemahnya ekspor, pasar juga dihadapkan pada potensi kenaikan produksi secara musiman. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa stok CPO pada akhir September dapat menembus angka lebih dari 3 juta ton. Estimasi industri memperkirakan produksi minyak sawit melonjak 20,84% dalam 25 hari pertama September dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Kombinasi antara pelemahan ekspor dan peningkatan produksi menjadi dua sentimen utama yang menekan harga CPO. Dengan proyeksi pasokan yang berpotensi melimpah dan belum adanya tanda penguatan permintaan, tekanan terhadap harga komoditas ini diperkirakan masih akan berlanjut.
Meskipun demikian, pelemahan harga CPO sedikit tertahan oleh kenaikan harga minyak mentah. Ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran turut menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi, sehingga meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Di Indonesia, data dari asosiasi sawit menunjukkan ekspor minyak sawit mengalami penurunan 9,87% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 3,19 juta ton pada Juli. Pelaku pasar kini menantikan data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur China untuk September. Data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai aktivitas ekonomi dan prospek permintaan komoditas dari salah satu konsumen utama dunia tersebut.