Investor Asing Lepas Saham TLKM, BMRI, dan BBCA di Tengah Pelemahan IHSG

Investor asing terus melancarkan aksi jual bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 30 September 2026. Tiga saham raksasa, yaitu PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), kembali menjadi sasaran utama aksi jual tersebut.

Secara keseluruhan, net sell asing di seluruh pasar pada hari ini mencapai Rp 1,6 triliun. Akumulasi net sell asing sepanjang tahun berjalan ini pun bertambah menjadi Rp 81 triliun, berdasarkan data yang dirilis BEI.

Saham TLKM mencatat net sell asing terbesar di pasar reguler pada hari ini, mencapai Rp 215,5 miliar. Posisi kedua ditempati saham BMRI dengan net sell asing sebesar Rp 205,9 miliar. Sementara itu, saham BBCA juga mengalami net sell asing senilai Rp 176,3 miliar.

Di sisi lain, investor asing mencatat transaksi beli bersih (net buy) terbanyak pada saham PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp 81,9 miliar. Disusul oleh saham PT Antam Tbk (ANTM) dengan net buy asing sebesar Rp 65,9 miliar.

Perdagangan hari ini diakhiri dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup melemah 50,5 poin atau 0,83% ke level 6.071,1. Dari total nilai transaksi Rp 13,4 triliun, tercatat 325 saham menguat, 371 saham melemah, dan 267 saham lainnya stagnan.

Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, pergerakan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, kekhawatiran mengenai pasokan minyak global mulai mereda setelah sebagian kapasitas pipa minyak East-West Arab Saudi pulih dan pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah terkait pelepasan cadangan darurat.

Sementara itu, dari dalam negeri, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah resmi mengesahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 menjadi undang-undang pada Selasa, 29 September 2026. APBN 2027 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% dengan defisit fiskal yang dipertahankan pada angka 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pilarmas menambahkan bahwa tekanan terhadap pasar juga datang dari kebijakan Federal Reserve (The Fed) terhadap Bank Indonesia (BI), serta potensi arus keluar modal asing jika tekanan di pasar keuangan global kembali meningkat.

Tinggalkan komentar