Lima berita ekonomi paling populer hingga Rabu (30/9/2026) mencakup perkembangan hilirisasi batu bara, kinerja emiten, hingga pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berada di garis depan dalam menangkap peluang dari kebijakan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi batu bara menjadi bahan bakar minyak (BBM). Kesiapan ini didukung oleh proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang sedang berjalan melalui dua anak usahanya, KPC dan Arutmin, di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga memiliki inisiatif serupa dengan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini direncanakan bersama MIND ID dan Pertamina, dengan target konstruksi dimulai pada 2027.
Laba Emiten PADA Naik Tajam
PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) melaporkan kinerja keuangan semester I-2026 yang diaudit dengan laba bersih melonjak 1.240% menjadi Rp 1,81 miliar, dibandingkan Rp 135 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, data dari aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa PADA justru membukukan rugi bersih Rp 970 juta untuk kuartal II-2026 saja, berbalik dari laba sekitar Rp 3 miliar pada kuartal I-2026.
Perkembangan Bandara Gudang Garam (GGRM)
Muncul perkembangan terbaru terkait Bandara Dhoho Kediri milik PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengonfirmasi adanya pengakhiran perjanjian kerja sama operasi (KSO) antara PT Angkasa Pura Indonesia dengan PT Surya Dhoho Investama, anak usaha Gudang Garam.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pengakhiran KSO ini telah disepakati dan ditandatangani pada 31 Agustus 2026. Perjanjian tersebut mengatur penyelesaian hak dan kewajiban, masa transisi, serta peralihan tanggung jawab operasional, namun bukan merupakan penghentian operasional Bandara Dhoho Kediri.
Asing Jual Saham BBCA
Investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 677,4 miliar di BEI pada perdagangan sesi I, Rabu (30/9/2026). Aksi jual signifikan terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Berdasarkan data BEI yang dilansir Stockbit Sekuritas, aksi net sell saham BBCA mencapai Rp 144,3 miliar jika dihitung berdasarkan harga rata-rata sesi I, dengan volume 23,6 juta saham. Aksi jual ini terjadi saat harga saham BBCA melemah 0,81% ke level Rp 6.100. Dalam sebulan terakhir, saham BBCA telah turun 5,7%, dan secara year to date (ytd) anjlok 24,4%.
Harga Emas Perhiasan Hari Ini
Harga emas perhiasan berbagai kadar terpantau stabil di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi (HRTA), dan Laku Emas pada Rabu pagi, 30 September 2026. Calon pembeli dan investor disarankan untuk terus memantau pergerakan harga yang dinamis.