Indeks-indeks saham Wall Street ditutup mayoritas melemah pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Pelemahan terjadi meskipun data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan sempat memberikan sentimen positif bagi pasar. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS dan kuatnya data ekonomi kembali membebani pergerakan saham.
Mengutip CNBC Internasional, indeks S&P 500 tercatat turun 0,25% menjadi 7.651,54. Sempat terjadi penguatan hampir 0,7% di sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average jatuh lebih dalam, melemah 0,86% atau 443,87 poin ke level 50.906,05.
Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite berhasil mencatat kenaikan tipis sebesar 0,24% dan ditutup pada level 26.861,06.
Data Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan inflasi AS pada Agustus naik 3,4% secara tahunan. Angka ini melandai dari 3,7% pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang memperkirakan inflasi bertahan di 3,7%.
Core PCE, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi, juga menunjukkan tren penurunan. Angka ini turun menjadi 3% dari 3,3% pada Juli. Data ini sempat mendorong harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan kenaikan suku bunga pada Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober turun menjadi sekitar 35%, dari 51% pada hari sebelumnya. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga ini seharusnya menjadi katalis positif bagi pasar saham.
Namun, kabar inflasi yang mendingin ternyata belum cukup untuk mengangkat Wall Street secara keseluruhan. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun justru terpantau naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,298% dan sempat menembus level 5,3%. Imbal hasil obligasi 30 tahun juga mengalami kenaikan hampir 5 basis poin menjadi 5,642%.
“Pasar tidak terlalu mengkhawatirkan ekspektasi inflasi yang melonjak. Saya kira yang diperhatikan trader adalah pertumbuhan,” kata Rob Haworth, senior investment strategy director di US Bank Asset Management Group.
Data Ekonomi Masih Panas
Investor juga mencermati ketahanan ekonomi AS yang ditunjukkan oleh data-data ekonomi terbaru. Data ADP menunjukkan sektor swasta berhasil menambah 90.000 pekerjaan pada September, jauh di atas ekspektasi ekonom yang hanya memprediksi penambahan 68.000 pekerjaan.
Pasar kini menantikan laporan tenaga kerja pemerintah yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Ekonom memperkirakan nonfarm payrolls akan bertambah sebanyak 84.000 pada September.
Kuatnya data tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi secara umum membuat investor belum sepenuhnya menghapus peluang kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun. Ketahanan ekonomi ini dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga jika dianggap perlu.
“Meski data inflasi hari ini sedikit lebih baik dari perkiraan, data tenaga kerja dan PDB yang kuat menunjukkan laporan tersebut kemungkinan tidak akan mengubah ekspektasi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun,” kata Adam Hetts, global head of multi-asset dan portfolio manager Janus Henderson Investors.
Perdagangan Rabu sekaligus menandai penutupan bulan September dan kuartal III-2026. Sepanjang September, S&P 500 tercatat turun 0,5%, sedangkan Dow Jones anjlok 4,3%. Nasdaq menjadi satu-satunya indeks yang mencatat kenaikan, yaitu 1,9% sepanjang September. Secara kuartalan, S&P 500 naik 2%, Nasdaq menguat 2,5%, sedangkan Dow Jones turun 2,7%.