Emas Merosot 6,6% di September, Inflasi AS yang Melandai Tak Berdaya

Harga emas dunia kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Meskipun data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan sempat memberikan sentimen positif, harga emas justru tertekan oleh kenaikan harga minyak dan penguatan imbal hasil obligasi.

Harga emas spot ditutup turun 0,61% menjadi US$ 4.157,12 per ons troi. Penurunan ini membuat emas dunia mencatatkan pelemahan bulanan yang signifikan, yakni ambles 6,69% sepanjang September. Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup naik tipis 0,22% menjadi US$ 4.189,1 per ons troi.

Sebelumnya, harga emas sempat mengalami penguatan setelah data inflasi AS dirilis menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan. Namun, penguatan tersebut tidak mampu bertahan lama.

“Dengan energi yang bergerak naik, obligasi telah kehilangan penguatannya dan kembali menekan logam. Ini merupakan hari yang mengecewakan bagi emas, meski peluang kenaikan suku bunga Oktober turun cukup signifikan setelah data core PCE lebih rendah dari perkiraan,” kata pedagang logam independen Tai Wong, dikutip dari Reuters.

Data dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3% pada Agustus, setelah kenaikan 0,1% pada Juli yang direvisi turun. Sementara itu, indeks PCE inti atau core PCE naik 3% secara tahunan pada Agustus, sama dengan kenaikan pada Juli setelah revisi.

Data inflasi yang lebih rendah ini membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober ikut mereda. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini sekitar 39%, turun dari sekitar 45% sebelum data PCE dirilis. Namun, pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 90%.

Minyak Jadi Biang Kerok Pelemahan Emas

Di sisi lain, kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Harga minyak menguat dan berada di jalur menuju kenaikan bulanan yang signifikan setelah pembicaraan AS-Iran untuk mengakhiri perang mengalami kebuntuan.

Mandeknya pembicaraan tersebut memicu kekhawatiran harga energi akan bertahan tinggi. Kondisi ini berpotensi membuat inflasi bertahan lebih lama dan mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral.

Dolar AS memang sempat melemah setelah rilis data inflasi, tetapi masih berada di jalur menuju kenaikan bulanan. Penguatan dolar AS membuat emas yang dibanderol dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

The Fed menggunakan indikator PCE sebagai salah satu acuan dalam mencapai target inflasi 2%. Bank sentral AS telah menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%-4% pada bulan ini dan masih membuka peluang kenaikan lebih lanjut.

Kenaikan suku bunga menjadi tantangan bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga tinggi, aset berbasis imbal hasil menjadi lebih menarik bagi investor.

Selain emas, harga perak spot ditutup anjlok 1,69% menjadi US$ 60,43 per ons dan palladium jatuh 1,54% menjadi US$ 1.206,76 per ons. Sedangkan platinum justru menguat tipis 0,25% menjadi US$ 1.717,4 per ons.

Ketiga logam mulia tersebut juga mencatatkan penurunan bulanan. Namun, emas, perak, dan platinum secara keseluruhan masih mencatat kenaikan pada kuartal ketiga.

Tinggalkan komentar