Saham GOTO Anjlok, Ini Penjelasan Resmi dari Manajemen

Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meminta penjelasan resmi dari manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terkait pergerakan saham perseroan yang terus menerus mengalami auto rejection bawah (ARB) sejak 28 September hingga 1 Oktober 2026. Pada penutupan perdagangan 1 Oktober, saham GOTO berada di level Rp 28.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan GOTO, RA Koesoemohadiani, menjelaskan bahwa keluarnya GOTO dari MSCI Global Standard Indexes pada 31 Agustus 2026 merupakan keputusan teknis. Hal ini didorong oleh rendahnya volume perdagangan saham yang disebabkan oleh harga saham perseroan yang berada di batas minimum BEI, yaitu Rp 50, sejak Mei 2026.

“Keputusan MSCI untuk mengeluarkan perseroan dari indeks murni bersifat teknis, didorong oleh rendahnya volume perdagangan saham sebagai akibat langsung dari saham perseroan yang berada pada harga minimum di Bursa Efek Indonesia, yaitu Rp 50 per saham sejak bulan Mei 2026,” jelasnya dalam keterbukaan informasi dikutip Jumat (2/10/2026). Ia menegaskan bahwa keputusan ini tidak mencerminkan kinerja perseroan.

Sebelumnya, GOTO juga telah dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index per 22 Juni 2026. Alasan dikeluarkannya GOTO dari indeks FTSE adalah karena perseroan tercatat di papan pengembangan BEI, yang dinilai tidak memenuhi kriteria masuk dalam FTSE GEIS.

Keluarnya GOTO dari kedua indeks acuan tersebut memicu tekanan jual dari investor institusi asing, khususnya dari ‘passive funds’ yang wajib menyesuaikan portofolio mereka. Sejak Juni 2026, tekanan jual pada saham GOTO terus terjadi secara teknikal. Namun, rendahnya volume perdagangan sempat menghambat ‘passive funds’ untuk menjual sahamnya di pasar reguler BEI.

Koesoemohadiani menambahkan, pemberlakuan peraturan baru BEI yang menurunkan batas bawah harga saham di pasar reguler dan tunai dari Rp 50 menjadi Rp 1 per saham sejak 28 September 2026, memberikan kesempatan bagi pemegang saham yang telah menunggu untuk menyesuaikan portofolio mereka. Hal ini kemudian menyebabkan fluktuasi harga saham perseroan.

“Perseroan meyakini bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menerus menguat. Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh berbagai aspek teknis sebagaimana telah dijelaskan oleh perseroan di atas,” terangnya.

Aksi Korporasi GOTO

Terlepas dari pergerakan harga saham, kinerja bisnis Grup GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II-2026, perseroan berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar, menandai dua kuartal berturut-turut membukukan keuntungan. Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 5,7 triliun, dengan EBITDA yang disesuaikan mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Perseroan tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai panduan EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp 3,2-3,4 triliun.

GOTO tetap fokus pada penguatan kinerja bisnis yang diyakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham. Dalam rangka aksi korporasi, GOTO telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp 3,5 triliun, yang berlaku mulai 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027.

Selain itu, GOTO berencana meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026 untuk melakukan pengurangan modal. Pengurangan modal ini akan dilakukan dengan cara menarik kembali sebagian saham tresuri perseroan yang berasal dari saham yang telah dibeli kembali selama periode 12 Juni 2024 hingga 11 Juni 2025. Saham tresuri yang akan ditarik kembali berjumlah 32.186.417.802 saham seri A.

Tinggalkan komentar